in

Jakarta dan Munajat 212 Meninggalkan Kontroversi

Acara Munajat 212 di Jakarta - FOTO/Kompas

sumogambar – Acara religi Munajat 212 beberapa waktu lalu meninggalkan kontroversi. Selain acara diwarnai dengan adanya dugaan penganiayaan terhadap wartawan, acara tersebut juga diwarnai keramaian aksi pencopetan, pidato kontroversial Neno Warisman dan tudingan sebagai ajang kampanye politik jelang Pilpres 2019.

Mengenai beragam kontroversi yang muncul, Ketua Majelis Ulama DKI Jakarta, KH Munahar Muchtar mengeluarkan pernyataan bahwa MUI DKI Jakarta tidak pernah mengadakan acara dengan nama Munajat 212. Sejak awal telah menegaskan nama kegiatan adalah Senandung Sholawat dan Dzikir Nasional.

“Saya tegaskan sekali lagi, kegiatan ‘Senandung Sholawat dan Dzikir Nasional’ kemarin sifatnya adalah untuk muhasabah bersama dan berupaya menyejukkan suasana melalui dzikir bersama. Kita berkumpul, memanjatkan doa kepada Allah SWT untuk menghadirkan kebaikan bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia kita tercinta,” ujar Ketua Umum MUI DKI Jakarta, KH Munahar Muchtar, dalam keterangan tertulis, Minggu (24/2/2019).

Sebelum pelaksanaan acara, MUI Pusat melalui Wakil Ketua Umum, Buya Zainut Tauhid Sa’adi mengatakan sebagai pihak yang memprakarsai kegiatan ini, posisi MUI DKI adalah simpul pemersatu umat. MUI, tuturnya, juga berperan menjaga hubungan sesama Islam maupun sesama bangsa.

“Kepada MUI Provinsi DKI yang ikut memprakarsai kegiatan tersebut kami mengimbau untuk tetap menjadikan organisasi MUI sebagai simpul dan pemersatu umat, menjaga ukhuwah Islamiyah maupun ukhuwah wathoniyahdemi terwujudnya kehidupan masyarakat yang rukun, harmonis dan bersatu,” ungkapnya melalui keterangan tertulis, Kamis (21/02).

Dalam pandangan Buya Zainut, kegiatan dzikir dan doa merupakan kegiatan penuh barokah dan kemuliaan. Apalagi bila maksud tujuan kegiatan tersebut demi keselamatan bangsa dan negara. Namun, ia menggarisbawahi, demi terjaganya kesucian acara, kegiatan ini jangan sampai tercemari kepentingan politik praktis.

“Mengingat sekarang bangsa Indonesia sedang memasuki masa kampanye, kami mengimbau agar acara yang sangat mulia tersebut tidak tercemari oleh kegiatan politik praktis, sehingga tidak mengurangi nilai kesakralan dari kegiatan doa dan zikir tersebut,” katanya.

Munajat 212 nyatanya dihadiri oleh sejumlah tokoh Partai Politik pendukung Prabowo.  Sejumlah petinggi partai politik yang tergabung dalam Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno hadir dalam acara Munajat 212 di Lapangan Silang Monas, Jakarta, Kamis (22/2/2019) lalu.

Tokoh-tokoh yang hadir di antaranya Wakil Ketua DPR cum Waketum Gerindra Fadli Zon, Ketua MPR cum Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan dan Wakil Ketua MPR sekaligus Wakil Ketua Majelis Syuro PKS Hidayat Nur Wahid.

Juru Debat BPN Prabowo-Sandiaga, Sodik Mujahid membantah acara itu diakomodir oleh timses Prabowo-Sandi. Kata Sodik, BPN Prabowo-Sandi tidak pernah memerintahkan untuk menggelar acara tersebut.

“Tidak ada agenda BPN apalagi perintah BPN untuk melakukan Munajat 212 dan mengisi 212 untuk kepentingan pasangan 02 [Prabowo-Sandiaga],” ujar Sodik kepada reporter Tirto, Jumat (22/2/2019).

Selain itu, dalam acara yang diprakarsai MUI DKI Jakarta juga diputar video pesan dari Habib Rizieq. Habib Rizieq, dalam doanya, berbicara mengenai kondisi bangsa dan penegakan hukum yang cenderung tidak adil. Diantara pesannya mengulas mengenai perlakuan hukum koruptor dan ulama, pun juga keberadaan pemimpin daerah yang memberikan dukungan politik  antara yang langsung di tegur dan tidak mendapatkan teguran.

“Koruptor, cukong, pembuat rakyat menderita dan sengsara bebas dengan potongan tahanan luar biasa. Sedang seorang ustaz tua korban rekayasa tak dilepas dari penjara. Inikah penegakan hukum suka-suka? Nastaghfirullah,” katanya.

Sikap politik para kepala daerah dalam Pilpres 2019 pun disinggung. Ia melihat ada perbedaan perlakuan yang diberikan penegak hukum.

“Duhai Allah, saat sekarang gubernur mengacung jari dua ikut sanubari mendukung pemimpin hasil Ijtimak Ulama langsung dipanggil, disidang, namun puluhan gubernur, wali kota acungkan dukung penguasa, mereka semua bungkam, kezaliman sangat kasatmata. Inikah penegakan hukum suka-suka? Nastaghfirullah,” ujarnya.

Habib Rizieq bersama massa mengatakan siap melawan kezaliman yang ada. Ia bersama massa siap menenggelamkan rezim penista agama.


Sisi lain Munajat 212, “Wartawan Korban Intimidasi”

Acara Munajat 212 di Monas, Jakarta Pusat sempat ricuh karena diduga adanya copet. Saat ini, para pelaku yang berjumlah dua orang itu telah diamankan oleh pihak polisi untuk menjalani pemeriksaan.

“Iya itu diduga copet ya, ada dua orang dan sudah kita bawa, ya itu diduga ya (berawalnya Kericuhan),” kata Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Harry Kurniawan saat dihubungi wartawan merdeka, Kamis (21/2) malam.

Selanjutnya, terjadi Intimidasi dialami wartawan saat meliput Munajat 212 di Monumen Nasional atau Monas. Berdasar siaran pers yang diedarkan oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI), dijelsakan bahwa Sejumlah jurnalis menjadi korban kekerasan, intimidasi, dan persekusi oleh massa yang menggunakan atribut Front Pembela Islam (FPI). Peristiwa itu terjadi di kawasan Monas, Jakarta, saat kegiatan Munajat 212 digelar pada Kamis malam (21/2/2019).

Koordinator Liputan CNN Indonesia TV, Joni Aswira yang berada di lokasi menjelaskan kejadian tersebut. Malam itu, belasan jurnalis dari berbagai media berkumpul di sekitar pintu masuk VIP, dekat panggung acara. Mereka menanti sejumlah narasumber yang datang untuk diwawancarai.

Tiba-tiba di tengah selawatan sekitar pukul 21.00 WIB, terjadi keributan. Massa terlihat mengamankan orang. Saat itu, beredar kabar ada copet tertangkap. Para jurnalis yang berkumpul langsung mendekati lokasi kejadian. Beberapa di antaranya merekam, termasuk jurnalis foto (kamerawan) CNN Indonesia TV.

Kamera jurnalis CNN Indonesia TV cukup mencolok sehingga menjadi bahan buruan sejumlah orang. Massa yang mengerubungi bertambah banyak dan tak terkendali. Beberapa orang membentak dan memaksa jurnalis menghapus gambar kericuhan yang sempat terekam beberapa detik.

Saat sedang menghapus gambar, Joni mendengar ucapan bernada intimidasi dari arah massa. “Kalian dari media mana? Dibayar berapa?”,  “Kalau rekam yang bagus-bagus aja, yang jelek enggak usah!”

Nasib serupa juga dialami wartawan Detikcom. Saat sedang merekam, dia dipiting oleh seseorang yang ingin menghapus gambar. Namun, dia tak mau menyerahkan ponselnya. Massa kemudian menggiring wartawan Detikcom ke dalam tenda VIP sendirian. Meski telah mengaku sebagai wartawan, mereka tetap tak peduli. Di sana, dia juga dipukul dan dicakar, selain dipaksa jongkok di tengah kepungan belasan orang.

Namun akhirnya ponsel wartawan tersebut diambil paksa. Semua foto dan video di ponsel tersebut dihapus. Bahkan aplikasi WhatsApp pun dihapus, diduga agar pemilik tak bisa berkomunikasi dengan orang lain. Usai kejadian itu, korban langsung melapor ke Polres Jakarta Pusat dan melakukan visum.

Jurnalis CNNIndonesia.com yang meliput di lokasi kejadian ikut menjadi saksi kekerasan tersebut. Sementara jurnalis Suara.com yang berusaha melerai kekerasan dan intimidasi itu terpaksa kehilangan ponselnya.

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta mengutuk aksi kekerasan dan intimidasi oleh massa FPI terhadap jurnalis yang sedang liputan. Kami menilai tindakan laskar FPI menghapus rekaman video maupun foto dari kamera jurnalis CNN Indonesia TV dan Detikcom adalah perbuatan melawan hukum. Mereka telah menghalang-halangi kerja jurnalis untuk memenuhi hak publik dalam memperoleh informasi.

Pasal 8 Undang Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers menyatakan, dalam menjalankan profesinya jurnalis mendapat perlindungan hukum. Kerja-kerja jurnalistik itu meliputi mencari bahan berita, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, hingga menyampaikan kepada publik. Selain itu, mereka juga bisa dijerat pasal pidana yang merujuk pada KUHP, serta Pasal 18 UU Pers, dengan ancaman dua tahun penjara atau denda Rp500 juta.

Kasus intimidasi dan kekerasan terhadap jurnalis yang melibatkan massa FPI tidak hanya terjadi kali ini saja. Sebelumnya massa FPI pernah melakukan pemukulan terhadap jurnalis Tirto.id Reja Hidayat di Markas FPI, Petamburan, Jakarta Pusat, pada Rabu, 30 November 2016 lalu.

Terakhir, Ratusan Pramuka tidak bisa masuk ke kawasan Monas karena ada sterilisasi menjelang Munajat 212, Kamis, 21 Februari 2019. Pahadal pramuka penggalang dari Brebes, Jawa Tengah itu, secara khusus datang ke Monas untuk berwisata.

“Kami tidak tahu kalau tidak bisa masuk karena ada sterilisasi,” kata Kisnawar, pimpinan rombongan pramuka itu. “Rombongan kami sudah datang sejak pukul 13.30 dan hampir dua jam menunggu masih belum bisa masuk.”

Kisnawar mengatakan anggota rombongannya ini berjumlah 300 orang. Mereka adalah peserta Perkemahan Pramuka Penggalang Ma’arif NU Nasional II yang digelar di Bumi Perkemahan Cibubur. Perkemahan ini berlangsung pada 19-23 Februari 2019. “Pesertanya penggalang pramuka dari seluruh Indonesia,” katanya. “Hari ini diberi kesempatan untuk kegiatan berwisata.

Bagikan:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments

Konsesi Lahan Ala Jokowi: Menghentak Keadilan Rakyat

Kebakaran Lahan Gambut di Riau