in

Kopi Excelsa Jombang Bisakah Jadi Primadona?

Ilustrasi Kopi Ekselsa - Foto/GettyImages

Sumogambar – Tradisi minum kopi jadi hal biasa dalam kehidupan masyarakat di Indonesia. Hampir setiap daerah mengenal tradisi ini. Bukan hanya sebagai penikmat rasa, sebagian petani Indonesia juga memilih tanaman kopi untuk dibudidayakan.

Tentu bukan hanya untuk sekedar mengecap rasa tapi lebih dari pada itu menjadi trobosan untuk membantu menghasilkan pundi-pundi financial.
Beragam jenis kopi lahir di negeri agraris ini. Jenis kopi yang banyak dibudidayakan, diantaranya Kopi Arabika (Coffea arabica), Kopi Robusta (coffea canephora), Kopi Liberika dan terakhir Kopi Excelsa (Coffea excelsa).

Lokasi penanaman pohon kopi dan cara pengelolaan yang berbeda di berbagai daerah memberikan ciri khusus kopi. Kemudian, disebut oleh Kementrian Hukum Dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) sebagai Identifikasi Geografis (IG).

Melalui IG, kopi bisa dikenali asal daerahnya. Diantaranya Kopi Arabika Kintamani Bali, Kopi Arabika Gayo, Kopi Arabika Flores Bajawa, Kopi Arabika Kalosi Enrekang, Kopi Arabika Java Preanger, Kopi Arabika Java Ijen-Raung, Kopi Arabika Toraja, Kopi Robusta Lampung, Kopi Arabika Java Sindoro-Sumbing, Kopi Arabika Sumatera Simalungun, Kopi Liberika Tungkal Jambi, Kopi Robusta Semendo, Kopi Liberika Rangsang Meranti, Kopi Arabika Sumatera Mandailing, Kopi Robusta Temanggung, Kopi Robusta Empat Lawang, Kopi Arabika Sumatera Koerintji, Kopi Robusta Pinogu, Kopi Robusta Pupuan Bali, Kopi Robusta Tambora, dan Kopi Arabika Sumatera Lintong.

Produksi kopi Indonesia Berdasarkan Angka Tetap Statistik Perkebunan Indonesia (Ditjen Perkebunan, 2015), produksi kopi Indonesia tahun 2014 tercatat sebesar 643.857 ton. Produksi ini berasal dari 1.230.495 ha luas areal perkebunan kopi dimana 96,19 persen diantaranya diusahakan oleh rakyat (PR) sementara sisanya diusahakan oleh perkebunan besar milik swasta (PBS) sebesar 1,99 persen dan perkebunan besar milik negara (PBN) sebesar 1,82 persen.

Dari 643.857 ton produksi kopi Indonesia, sebanyak 73,57 persen atau 473.672 ton adalah kopi robusta sementara sisanya sebanyak 26,43 persen atau 170.185 ton adalah kopi arabika. Sentra produksi kopi robusta berada di Provinsi Sumatera Selatan, Lampung, Bengkulu, Jawa Timur, dan Sumatera Barat. Sedangkan untuk kopi arabika berada di Provinsi Sumatera Utara, Aceh, Sulawesi Selatan, Sumatera Barat, dan Nusa Tenggara Timur.

Kopi Tanaman Pendatang

Keberadaan kopi di Indonesia bukan ada dengan sendirinya. Seperti dilansir dalam halaman Balai Besar Pelatihan Pertanian Lembang (BBPP-Lembang) Kopi termasuk kelompok tanaman semak belukar dengan genius Coffea masuk ke dalam family Rubiaceae, subfamily lxoroideae, dan suku Coffeae.

Seorang bernama Linnaeus merupakan orang yang pertama mendeskripsikan spesies kopi Coffea arabica pada tahun 1753. Menurut Bridson dan Vercourt pada tahun 1988, kopi dibagi menjadi 2 genus, yakni Coffea dan Psilanthus. Genus Coffea terbagi menjadi 2 subgenus, yakni Coffe dan Baracoffea. Subgenus Coffea terdiri dari 88 spesies.

Sementara itu, subgenus Baracoffea terdapat 7spesies. Berdasarkan geografik (tempat tumbuh) dan rekayasa genetik, kopi dapat dibedakan menjadi 5, kopi yang berasal dari Ethiopia, Madagascar, serta Benua Afrika bagian barat, tengah, dan timur (Andre Illy dan Rinantonio Viani, 2005).

Dalam the Coffee Book: Anatomy of an Industry from Crop to the Last Drop disebutkan bahwa kopi pertama kali ditemukan antara tahun 575-850 M oleh suku Galla di Ethiopia yang memanfaatkan kopi sebagai sejenis makanan penambah energi “energy bar”.

Pada masa kejayaan Islam, para pedagang Islam menyebarkan kopi, minuman yang dipercaya memiliki khasiat bagi kesehatan dan penahan rasa kantuk, ke negara-negara di bawah kekaisaran Ottoman.

Dalam karya Pudji Raharjo, “KOPI”, hal 12, disebutkan Penanaman kopi dimulai tahun 1696 dengan menggunakan jenis kopi Arabika. Penanaman jenis kopi ini kurang berhasil. Tahun 1699 pemerintah Hindia Belanda mendatangkan lagi kopi arabika, kemudian berkembang baik di pulau jawa.

Kopi arabika yang dikenal dengan kopi jawa (java coffee) tersebut memiliki kuatitas sangat baik dan merupakan komoditas eksport penting selama lebih dari 100 Tahun.

Karena ada ancaman serangan hama karat daun, pada tahun 1900 digantikan tanaman kopi arabika dengan kopi robusta. Selain itu, masuknya jenis kopi robusta karena adanya pembelian benih kopi Robusta oleh perusahaan “Cultur Mij.Soember Agoeng” pada tahun yang sama.

Benih-benih untuk menghasilkan bibit itu didatangkan dari Kongo Belgia (sekarang Zaire) yang terletak di Afrika Barat. Lokasi penanaman ketika itu berada di area perkebunan Soember Agoeng, Wringin Anom dan Kali Bakar berlokasi di daerah Dampit, sekitar 40 kilometer dari Kota Malang arah Tenggara.

Sementara itu kopi excelsa didatangkan dari negara Liberia pada tahun 1875 oleh Belanda. Kopi ini termasuk satu kelompok dengan kopi liberikan (coffe liberica Bullex Hie). Morfologi keduanya sangat mirip. Perbedaan ada di pucuk daun, jika Liberika pucuknya berwarna hijau, sedangkan pucuk daun Kopi excelca berwarna kemerah-merahan.

Kopi ekselsa tumbuh dan bekembang baik di tanah dengan keasaman tinggi. Kopi excelsa bisa dijumpai di kawasan lereng Gunung Anjasmoro, Wonosalam, Jombang.

Exelsa Jadi Primadona

Bukan hal mustahil, Jenis Kopi Excelsa menembus persaingan pangsa pasar kopi dunia. Sebagai negara kedua terbanyak dalam hal eksport kopi, Indonesia bisa menjadi surga bagi pencinta kopi.

Warga Wonosalam Jombang, membuktikan hal itu. Dia adalah Satiran (63) warga asli desa Sumberjo,Wonosalam, sejak tahun 2012 dirinya membuka kedai kopi khas kopi luwak. Bahan baku jenis kopi Excelsa diambil dari kebun seluas 0,5 hektar dan budidaya hewan liar luwak sebanyak 19 ekor.

Setelah empat tahun produksi kopi luwak miliknya telah merambah pasar kopi nusantara, dengan merk kemasan “Kopi Luwak, Warung Pojok”. Harga satu gelas kopi siap seduh gelas ukuran 250 ml dibandrol harga Rp 10 ribu, sedangkan kopi bubuk dalam kemasan dihargai Rp 100 ribu rupiah.

Kini kopi luwak hasil produksi Satiran telah memiliki pelanggan tetap sejumlah cafe di Jakarta yang dipasarkan oleh anak kandungnya.

Tidak hanya kopi luwak, ada penemuan baru lagi kopi Excelsa Jegidik. Berbeda dengan kopi luwak yang dimakan hingga menjadi kotoran, Kopi Jegidik merupakan kopi yangg dimakan oleh jegidik (tupai, red) tanpa ditelan, dimuntahkan kembali karena hanya dimakan kulitnya saja. Campuran air liur tupai tersebut dirasa menjadikan kopi excelsa jauh lebih nikmat.

Pemproduksi kopi Jegidik, Sampiyo, warga Desa Sumberjo, Wonosalam mengatatakan selain mendapatkan biji kopi jegidik dari tupai peliharaan, dirinya juga mencari dan mengumpulkan biji kopi dari areal perkebunan kopi miliknya. Sebab banyak biji kopi berceceran bekas dimakan Jegidik. Hewan sejenis tupai diketahui memiliki insting memilih kopi yang benar-benar matang.

Diatas sebagai gambaran, bahwa keberadaan Jenis Kopi Excelsa mampu diformulasikan menjadi biji kopi berkualitas baik dengan sentuhan natural manusia maupun dari bantuan binatang disekitar. Dengan Wonosalam menjadi wilayah pengembangan desa organik berbasis komoditas kopi, serta dengan luas areal wilayah perkebunan kopi mencapai 887,00 hektar bukan tidak mungkin produksi kopi excelsa Wonosalam bisa semakin ditingkatkan.

Upaya melegalitaskan jenis kopi excelsa wonosalam dalam Identitas Geografis bukannya tidak mungkin. Hal ini juga dilakukan oleh sejumlah daerah dengan jenis kopi Arabika, Robusta maupun Liberika. Registrasi oleh Kemekumham akan melegitimasi hak paten produk kopi dengan ciri khas rasa, dari daerah asal kopi ditanam dan diproduksi.

Tentu bukan pekerjaan sendiri-sendiri, pemerintah bisa sesegera mungkin menggandeng pengusaha-pengusaha muda lokal yang mampu mendongkrak pangsa pasar Kopi Jenis Excelsa melalui teknologi Start Up. Tinggal sekarang mampukah itu dijalankan?

Bagikan:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments

Tim Sembilan Undar, Ajak Pemda Urusi Aset Daerah

Isu Surat Suara Tercoblos, Konten Hoax yang Mirip Kasus Ratna Sarumpaet