in

Macam-Macam Depresi dan Beberapa Cara Mengatasinya

Ilustrasi depresi - FOTO/AP

sumogambar – Aktivitas manusia dengan berbagai tuntutan pekerjaan tidak bisa lepas dari persoalan depresi. Penyakit psikologis ini acapkali muncul ketika beban kerja dan rutinitas kerja melampaui batas-batas kesanggupan diri.

Adapun secara jelas bagaimana sebuah depresi terjadi, macam depresi, dan cara mengatasinya. Berikut sejumlah penjelasan mengenai depresi yang dilansir dari laporan Hallosehat.

Depresi adalah kelainan mental yang paling umum terjadi. The World Health Organization (WHO) memperkirakan sekitar 350 juta orang menderita depresi di seluruh dunia. Depresi merupakan kondisi yang digambarkan sebagai suatu kelainan mood yang menyebabkan munculnya perasaan sedih dan pada kondisi tertentu mengakibatkan hilangnya sebuah minat.

Depresi bisa memengaruhi perasaan, cara berpikir dan berperilaku seseorang, serta dapat membuat seseorang memiliki berbagai masalah emosi dan fisik.

Jika rasa sedih berlangsung dalam beberapa hari atau minggu, mengganggu pekerjaan atau kegiatan lain dengan keluarga atau teman, atau berpikir untuk bunuh diri, kemungkinan ini adalah depresi. Diskusikan dengan dokter Anda jika Anda merasakan gejala depresi.

Menurut definisi Halosehat, depresi merupakan kondisi yang dapat menimbulkan bermacam macam gejala pada setiap orang. Contohnya, saat menderita depresi beberapa orang akan tidur lebih banyak, sementara gejala lainnya bisa menimbulkan gejala sulit tidur dan tidak nafsu makan. Meski begitu, terdapat beberapa gejala yang umum terjadi, seperti:

  • Sulit konsentrasi
  • Merasa sedih atau kosong
  • Kehilangan minat akan hal-hal yang menggembirakan
  • Merasa masa depannya tidak akan baik atau putus asa
  • Merasa tidak berenergi
  • Merasa gelisah atau sulit tidur
  • Hilang minat pada seks
  • Depresi berat dapat menyebabkan pikiran bunuh diri dan pembunuhan.

Macam-Macam Depresi

Pada dasarnya, depresi merupakan gangguan mood yang jauh lebih serius daripada merasakan kesedihan yang berlarut-larut. Akan tetapi, depresi itu ada banyak jenisnya. Selain itu, gejala-gejala dan keluhan depresi juga biasanya berbeda-beda pada setiap orang. Jadi sebenarnya apa saja jenis depresi yang harus diketahui? Berikut penjelasan lengkapnya.

1. Depresi mayor (depresi berat)

Depresi mayor juga dikenal dengan istilah depresi berat atau depresi klinis. Depresi mayor merupakan salah satu dari dua jenis depresi yang paling sering terdiagnosis. Anda bisa didiagnosis dengan depresi mayor apabila gejala-gejala kesedihan, keputusasaan, dan kesepian sudah berlangsung selama dua minggu lebih.

Gejala depresi mayor pada umumnya cukup serius sehingga efeknya sangat terasa pada aktivitas dan kualitas kehidupan seseorang. Misalnya Anda jadi tidak nafsu makan sama sekali, badan lemas sehingga tidak ada dorongan untuk bekerja atau beraktivitas seperti biasa, serta menghindari orang-orang seperti di tempat kerja atau dalam keluarga.

Hingga saat ini penyebab pasti dari depresi mayor belum dapat diketahui. Namun, beberapa hal yang bisa memicu depresi antara lain keturunan (genetik), pengalaman buruk, trauma psikologis, serta gangguan susunan kimiawi dan biologis otak.

2. Depresi kronis (distimia)

Jenis depresi lainnya yang paling sering terdiagnosis adalah depresi kronis. Beda dengan depresi berat, jenis depresi kronis biasanya dialami selama dua tahun berturut-turut atau lebih. Akan tetapi, keparahan gejalanya bisa lebih ringan atau berat daripada depresi berat.

Depresi kronis pada umumnya tidak terlalu mengganggu pola aktivitas, tapi cenderung memengaruhi kualitas kehidupan. Misalnya jadi tidak percaya diri, pola pikir terganggu, sulit berkonsentrasi, dan mudah putus asa.

Pemicunya ada banyak. Mulai dari faktor keturunan, gangguan kesehatan jiwa lainnya seperti gangguan bipolar dan kecemasan, mengalami trauma, memiliki penyakit kronis, dan cedera fisik di kepala.

3. Depresi situasional

Depresi situasional merupakan jenis depresi yang tidak begitu menentu. Biasanya, jenis depresi ini ditandai dengan munculnya gejala depresi seperti merasa murung dan adanya perubahan pola tidur dan pola makan ketika ada kejadian yang memberikan tekanan mental yang cukup tinggi.

Secara sederhana, munculnya gejala depresi tersebut disebabkan oleh respon otak terhadap stres. Pemicu depresi situasional berbeda-beda. Bisa dari kejadian yang bersifat positif seperti pernikahan atau menyesuaikan tempat kerja yang baru hingga kehilangan pekerjaan, perceraian, atau perpisahan dengan keluarga dekat.

4. Gangguan suasana hati musiman (seasonal affective disorder)

Orang yang mengalami gangguan suasana hati musiman akan mengalami gejala depresi yang berbeda-beda, tergantung pada musimnya.

Munculnya gangguan ini memang sangat berkaitan dengan perubahan waktu pada musim dingin atau musim hujan yang cenderung menjadi lebih pendek dan sangat sedikit sinar matahari. Gangguan ini akan membaik dengan sendirinya ketika cuaca sudah lebih cerah dan hangat.

5. Gangguan bipolar

Jenis depresi ini biasanya dialami oleh orang yang punya gangguan bipolar. Pada gangguan bipolar, pasien bisa mengalami dua kondisi yang saling bertolak belakang, yaitu depresi dan mania.

Kondisi mania ditandai dengan munculnya perilaku atau emosi yang meluap-luap. Misalnya rasa gembira atau ketakutan yang membuncah dan tidak bisa dikendalikan.

Kebalikannya, kondisi depresi pada gangguan bipolar ditunjukkan dengan sensasi tidak berdaya, putus asa, dan sedih. Kondisi ini pun bisa membuat seseorang mengurung diri di kamar, bicaranya sangat lambat seolah sedang melantur, dan tidak mau makan.

6. Depresi postpartum

Depresi postpartum terjadi pada wanita beberapa minggu atau bulan setelah melahirkan (postpartum). Munculnya gejala depresi berat pada masa postpartum dapat berdampak pada kesehatan dan ikatan batin antara ibu dan bayi.

Depresi ini bisa bertahan cukup lama, biasanya sampai ibu sudah haid lagi setelah melahirkan. Penyebab utama dari depresi postpartum adalah perubahan hormon, di mana hormon estrogen dan progesteron yang tadinya cukup tinggi pada masa kehamilan menurun secara drastis setelah melahirkan.

7. Depresi premenstrual

Jenis depresi ini dikenal juga dengan istilah Premenstrual Dysphoric Disorder (PMDD). Kondisi ini berbeda dengan premenstrual syndrome (PMS). Pasalnya, PMDD merupakan gangguan mood yang serius hingga mengganggu keseimbangan emosi dan perilaku. Gejala-gejala yang ditimbulkan antara lain munculnya kesedihan, kecemasan, gangguan mood ekstrem atau sangat mudah marah. PMDD kemungkinan disebabkan oleh adanya riwayat depresi sebelumnya pada seseorang dan bertambah parah ketika terjadi perubahan hormon atau memasuki masa PMS.


Cara Mengatasi Depresi

Meski sering digambarkan dalam kondisi yang cukup parah, sebenarnya ada beberapa cara mengatasi depresi yang bisa rutin Anda lakukan. Apa saja, ya?

1. Atur jadwal harian

Salah satu cara mengatasi depresi adalah dengan tidak membiarkan diri berlarut-larut dalam kesedihan. Hal ini dijelaskan lebih lanjut oleh Ian Cook, MD, seorang psikiater dari University of California. Menurutnya, membuat jadwal harian dan menerapkannya dengan rutin setiap hari, lama-lama membantu penderita depresi untuk disibukkan dengan berbagai kegiatan positif.

2. Istirahat yang cukup

Depresi sering membuat Anda kesulitan tidur, sehingga jam tidur jadi berantakan. Padahal tanpa sadar, kurang tidur justru bisa memperburuk gejala depresi Anda. Maka dari itu, usahakan untuk selalu tidur lebih awal dan pastikan jam tidur harian Anda selalu optimal. Jika perlu, Anda bisa melakukan ritual yang bisa bantu agar tidur lebih nyenyak, misalnya meditasi atau berendam air hangat sebelum tidur.

3. Olahraga teratur

Tidak hanya membuat tubuh sehat, olahraga juga berperan sebagai cara mengatasi depresi. Ini karena pengaruh hormon endorfin serta dopamin yang melonjak naik saat Anda berolahraga. Kedua hormon tersebut mampu meredakan rasa sakit sekaligus membuat mood jauh lebih baik. Jika Anda melakukan olahraga rutin, maka produksi hormon tersebut akan dua kali lipat lebih banyak. Sinyal bahagia ini akan diterima oleh otak dan digunakan untuk meredakan depresi.

4. Rutin minum obat

Jika depresi sudah terjadi baiknya rutin untuk meminum obat. Rekomendasi obat untuk meredakan depresi diantaranya, seperti citalopram (Celexa), escitalopram (Lexapro), sertraline (Zoloft), fluoxetine (Prozac), dan vilazodone (Viibryd) adalah beberapa obat golongan selective serotonin reuptake inhibitors (SSRIs) yang dapat diminum untuk mengelola gejala depresi. Dokter akan memilihkan jenis obat sesuai dengan kondisi dan keparahan depresi yang Anda alami.

5. Psikoterapi

Psikoterapi atau terapi psikologis biasanya dipilih dalam kondisi depresi. Seorang terapis akan mengajak Anda bicara mengenai depresi Anda, serta membantu untuk melewati situasi sulit yang sedang Anda alami.

6. Mengatur pola makan

Ada beberapa jenis makanan yang sebaiknya Anda hindari bila tidak ingin depresi semakin memburuk. Mulai dari alkohol, kafein, serta makanan olahan. Sebagai gantinya, makan makanan yang lebih dianjurkan seperti sayur berdaun hijau gelap, jamur, alpukat, apel, dan tomat.

Dari penjelasan diatas, depresi berpotensi menyerang kita semua. Berbagai faktor menjadi penyebab, baik faktor kesehatan, lingkungan maupun kondisi kerja. Depresi juga berpotensi datang bilamana setiap beban persoalan yang ada tidak sesegera mungkin mendapatkan langkah penyelesaian. Faktor resiko penyebab depresi yang paling umum, diantaranya adanya ketidak seimbangan zat kimia otak, perubahan hormon, kejadian traumatis di masa lalu, memiliki penyakit kronis, kecanduan minum alkohol, dan kekurangan zat gizi.

Siapa saja bisa mengalami depresi, termasuk saya, anda dan keluarga anda?

Bagikan:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments

Agenda Keadilan Ekonomi Dalam Pemilu 2019

Tunjangan ASN Naik, Murni Kebijakan atau Strategi Politik Jelang Pilpres?