in

Nasib Petani Tanaman Buah Musiman di Jombang

Foto Antara - Petani tanaman buah yang ada di Jombang

Sumogambar – Dari data BPS, nilai ekspor komoditas hortikultura segar Januari sampai Juli 2018 mencapai Rp 1,22 triliun. Nilai ini naik sebesar 60,5 persen dibanding periode tahun sebelumnya yakni hanya Rp 0,76 triliun.

Adapun estimasi ekspor mangga pada 2018 sebesar 835 ton, naik 6 persen dari tahun sebelumnya yang hanya 790 ton. Sementara ekspor bawang merah pada 2018 ditargetkan 15.000 ton, naik 128 persen dibandingkan tahun 2017 yang hanya 6.588 ton.

Komoditas utama hortikultura dibagi menjadi 3 (tiga) aspek komoditas. Untuk yang pertama yakni, komoditas prioritas: jeruk, pisang, mangga, manggis, durian, anggrek, cabai merah, bawang merah, dan kentang.

Sedangkan komoditas unggulan yakni, papaya, salak, nanas, anggur, tomat, kubis, kacang panjang, buncis, mawar, anyelir, lili, krisan, sedap malam dan dracaena.

Sedangkan komoditas prospektif yang banyak kita jumpai, seperti di Jombang, Jawa Timur, yakni tanaman semangka, melon, markisa, jambu, kesemek, rambutan, apokat, klengkeng.

Namun tanaman buah itu bukanlah jenis tanaman yang menjadi pilihan bagi para petani untuk di tanam di sawahnya. Mengingat di Jombang, petani masih lebih memilih menanam padi. Dan ketika pada musim kemarau barulah tanaman buah itu menjadi pilihan petani. Khususnya di wilayah bagian barat Kabupaten Jombang.

Memang bukan tanaman utama, karena keberadaan petani buah di wilayah barat Jombang sebelumnya mengisi lahan pertanian dengan tanaman utama, yaitu padi. Baru saat kemarau pada pertengahan bulan sampai akhir tahun, kalangan petani padi beralih menjadi petani buah.

Sejumlah tanaman buah satu musim, antara lain Semangka, Blewah, Timun Mas, dan Melon bisa kita saksikan dibeberapa areal pertanian Desa. Seperti di Kecamatan Megaluh, mulai dari Sidomulyo, Sumberagung, Ngogri, Sumbersari, sampai wilayah Balongsari. Sedangkan di Kecamatan Bandar Kedungmulyo, antara lain Desa Brodot dan Pucangsimo.

Tanaman buah hasil kreasi petani tampaknya tidak sebanding dengan rasa segar yang kita rasakan. Pasalnya, persoalaan mahal dan langkanya pupuk masih menjadi kendala utama bagi petani tanaman buah di Jombang.

Seperti yang dialami oleh Sareh (65), petani tanaman buah asal Desa Sumbersari, Kecamatan Megaluh, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

Menurut Sareh, dengan adanya Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) seharusnya bisa memenuhi kebutuhan pupuk petani. Sesuai aturan yang berlaku, jika perpindahan pupuk dari satu wilayah ke wilayah lain tidak diperbolehkan, tapi jika tidak mengambil pupuk di tempat lain bagaimana bisa petani melakukan pemupukan.

“Pupuk ada, tapi tidak sesuai dengan yang dibutuhkan,” ungkap Sareh, senin (8/10/2018) pagi kepada redaksi sumogambar.

Mengenai persoalan itu, Sareh dan petani lainnya berharap ketersediaan pupuk haruslah direncanakan secara detail, yang melibatkan kelompok tani atau pihak-pihak yang tau akan kondisi real dibawah.

Tentu, hal ini agar nantinya bisa menyesuaikan dengan kebutuhan pupuk para petani sebelum masa tanam.

“Kami mengalami kesulitan mendapatkan pupuk subsidi jenis Za, dan Phonska, sudah mencari kemana-mana tidak ada. Seperti pengemis,” ujar Sareh.

Hasil panen tanaman buah, tergantung pada saat pemupukan tanaman oleh petani. Jika pemupukan ala kadarnya, maka secara otomatis akan berpengaruh dengan kondisi tanaman.

Pemupukan cukup bisa dilihat dengan kondisi tanaman yang, daunnya lebar, pupusnya bagus, hasil buah besar, rasa buah manis, dan tahan lama.

Adanya dugaan penyelewengan pupuk subsidi oleh penyalur, memang hingga hari ini belum dijumpai di Jombang.

Namun untuk pembelian pupuk, petani diharuskan membeli pupuk dalam bentuk paket, contoh jika beli urea paketnya pupuk organik. Sedangkan kemampuan daya beli petani untuk pupuk, petani hanya mampu membeli satu jenis pupuk untuk tenamannya.

Selain masalah pupuk, permasalahan modal juga menjadi hal penting bagi petani. Hal ini di umpamakan Sareh, saat kondisi tanaman bauh di sawah sedang membutuhkan pupuk, maka hanya mereka para petani kayalah yang sewaktu-waktu bisa mencari pupuk. Sedangkan petani dengan modal pas-pasan pasti kesulitan.

Sedangkan tanaman tidak bisa ditunda untuk melakukan pemupukan. Dan jika tanaman tidak mendapatkan pupuk yang sesuai, maka akan berpengaruh pada hasil buah.

Masih menurut Sareh, bagi sebagian petani buah, tidak pada semua momen tanamannya bisa laku di pasar. Hanya momen-momen tertentu tanaman buah seperti melon bisa laku keras di pasar.

Seperti pada momen puasa dan hari raya. Para petani Melon akan mendapatkan untung yang banyak. Karena harga melon dan buah lainnya bisa naik secara fantastis. Dan kalau di luar momen tersebut, harga melon dan tanaman buah lainnya bisa saja terjun bebas.

Dengan kondisi ini, tentu Sareh dan petani yang lain berharap agar ada standarisasi harga oleh pemerintah daerah setempat. Paling tidak, harap Sareh, harga standar buah Melon per kilo bisa di angka Rp 7.500 – Rp 8.000, baru petani bisa merasakan hasil dari tanaman buahnya.

Selain itu, musim panen raya buah juga berdampak pada nilai jual dari tanaman buah. Jika musim panen seperti tanaman buah melon, pasti nanti harga melon di pasar akan murah, tapi jika sedang tidak musim panen maka harga buah melon atau semangka harganya mahal.

Hal senada juga di ungkapkan oleh Aripin (38), petani buah melon asal Desa Brodot, Kecamatan Bandar Kedungmulyo, Jombang.

Kendala dalam proses tanam petani buah melon muncul, jika saat musim tanaman butuh pupuk, namun keberadaan pupuk langka. Tentu hal ini akan berpengaruh pada pertumbuhan tanaman.

“Pupuk harus ada, tanaman buah Melon tidak boleh telat dari pupuk,” kata Aripin.

Menurut Arifi, itulah sebabnya kenapa kadangkala pengalaman petani di lapangan menjadi modal utama bagi petani. Meski hal itu sering tidak sesuai dengan penjelasan dari Petugas Penyuluh Lapangan (PPL).

Saat ditanya mengenai permodalan, Arifin mengaku nekat meminjam uang di bank, dengan bunga cukup tinggi. Untuk itulah Arifin berusaha sebaik mungkin dalam mengolah tanaman buah melonnya. Dengan harapan agar tanaman melonnya berhasil panen dan bisa mengembalikan modal ke bank.

Perlu diketahui, jenis tanaman melon mulai dari sejak penanaman sampai buah untuk dipanen membutuhkan waktu 2 bulan atau sekitar 60 hari.

Jenis bibit Melon yang ditanam petani di Jombang pada umumnya yakni, jenis Eksen, Merlin, Dragon, Kwik, Apollo, New Golden, Dante, Pertiwi, Dona, Rider, dan Artomoro.

Sedangkan sentra tanaman Melon di Kecamatan bandar Kedungmulyo, Jombang berada di Desa Dunggabus, Desa Brodot, Desa Pucangsimo. Namun, petani juga sering berpindah lokasi tanam, karena adanya keterbatasan lahan untuk menaman tanaman buah tersebut.

Dikonfirmasi secara terpisah Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Jombang, Hadi Purwantoro membenarkan bahwa setiap musim kemarau, pasti akan bermunculan petani buah, seperti semangka, melon, garbis.

“Kalau musim kemarau, wilayah Jombang ada ditanami buah sejenis Semangka, Garbis, Sumbawa dan Melon,” terang Hadi, saat dihubungi redaksi sumogambar.com, melalui sambungan telephone, seluler.

Hadi juga membenarkan bahwa, sentra tanaman buah, memang berada di daerah Jombang bagian Barat, tapi belakangan ini mulai bergeser ke arah timur.

Menurut hadi di wilayah Kecamatan Perak dulu petani tanaman buah ini sangatlah banyak, tapi sekarang berkurang dan tinggal sedikit. Sedangkan dari data pertanian Jombang, petani buah pailing banyak berada di daerah Kecamatan Megaluh, Kecamatan Tembelang, dan bergeser sampai wilayah Kesamben, demikian juga daerah Kecamatan Plandaan.

Saat di tanya lebih lanjut, mengenai upaya apakah yang dilakukan oleh Dinas Pertanian selama ini dalam mengatasi persoalan bagi petani tanaman buah di Jombang, Hadi menuturkan bahwa sampai hari ini Dinas masih hanya sebatas pembinaan terhadap para petani tanaman buah.

Pasalnya, hingga hari ini, Dinas beranggapan bahwa petani tanaman buah hanya bersifat musiman. Dan hingga hari ini juga belum ada laporan yang masuk mengenai persoalan yang dihadapi oleh petani tanaman buah di Jombang.

“Pupuk juga disediakan, pupuk subsidi ada, keberadaan pupuk tidak langka tapi jumlahnya kurang. Petani bisa mengakses melalui kelompok tani,” jelas Hadi.

Pihak dinas pertanian Kabupaten Jombang mengklaim bahwa, setiap tahun melakukan pembinaan terhadap para petani tanaman buah yang ada di Jombang. Pembinaan tersebut, berupa sekolah lapangan dengan tema pengendalian hama terpadu, ground agriculture perpektif.

Meski demikian Hadi mengaku bahwa pembinaan tersebut dilakukan tidak merata pada petani, namun hanya menjangkau semua kelompok.

Mengenai RDKK, Hadi menjelaskan bahwa RDKK belum bisa diberlakukan untuk petani buah musiman. Patokan RDKK hanya untuk pertanian tanaman pangan. Mengingat tanaman musiman belum pasti rencana musim tanamnya, mengikuti perubahan masa tanam.

Perlu diketahui bahwa Dinas Pertanian,memang tidak membuat RDKK untuk tanaman buah musim, namun tanaman buah musim masuk dalam patokan pada sub Holtikultura. Dan itupun juga tidak secara detail perjenis tanaman buah.

Bagikan:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments

Pendaftaran CPNS Kabupaten Jombang 2018

Ambruknya Atap Sekolahan, Menjadi Ironi Kita Semua