in

Rekomendasi Kuliner: Wisata Lidah di Wonosalam Jombang

Nasi Goreng Tiwul di Rumah Makan Durian Bu Sulami, Wonosalam, Jombang - FOTO/Fredi

sumogambar – Ada beragam kuliner menarik di Indonesia. Selain cita rasa yang disuguhkan, kekhasan kuliner Indonesia terletak pada keunikan bahan dan kekayaan rempah dalam kandungan makanan. Penikmat kuliner tentu tidak asing dengan sederet nama kuliner khas Indonesia, sebut saja diantaranya Nasi Rawon, Soto, Pecel, Rica-rica, Nasi Padang, Nasi Goreng, Nasi Lodeh, Gado-Gado, dan lain sebagainya.

Kekhasan kuliner Indonesia bertambah lagi, salah satunya di daerah Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang, sebuah kuliner lokal. Warga setempat menyebutnya “Nasi Goreng Tiwul”. Perpaduan antara nasi, jagung dan tiwul diramu dengan bumbu khas menghasilkan makanan bercita rasa tinggi.

Dalam istilah masyarakat jawa, tiwul adalah olahan dari ubi kayu atau singkong. Singkong yang dipotong menjadi bagian kecil-kecil, kemudian dijemur dibawah terik matahari selama beberapa hari. Usai potongan kecil singkong kering, dilanjutkan proses perendaman untuk melakukan pembersihan. Guna menghasilkan tiwul, kemudian dihaluskan dengan cara ditumbuk menggunakan lumpang kayu. Jika bahan singkong sudah terlihat ada yang lembut, dilanjutkan dengan proses penginteran (penyaringan) untuk menghasilkan butiran singkong. Menurut penuturan juru masak Rumah Makan Khas Durian, Pujiati pembuatan tiwul bisa memakan waktu sampai lima hari.

“Kaspe (Singkong) dijemur sampai kering, terus di rendam, dicuci sampai bersih bersih, dihaluskan dengan cara di deplok (ditumbuk) kemudian di iter, prosesnya masih lama, bisa sampai lima hari,” terang Bu Pujiati.

Menurut Pujiati, untuk pembuatan Nasi Goreng Tiwul diawali dengan menyiapkan tiwul yang sudah ditanak, kemudian dicampur dengan nasi putih dan jagung.

Selain itu disiapkan terlebih dahulu bumbu masak untuk nasi goreng. Ada garam, cabe, bawang merah, bawang putih, dan daun jeruk. Semua bumbu terlebih dahulu dihaluskan, sembari menyiapkan loyang berisi minyak sayur untuk proses penggorengan. Semua bumbu yang sudah dihaluskan digoreng terlebih dahulu sampai mengeluarkan aroma harum, dilanjutkan memasukkan bahan utama tiwul dicampur nasi putih dan jagung.

Ide awal membuat Nasi Goreng Tiwul diakui oleh Pemilik Rumah Makan, Weni Desityo (23) berangkat dari kebutuhan menghadirkan Nasi Goreng dalam bentuk baru. Bentuk nasi goreng sudah banyak, dan pada umumnya memakai nasi putih saja. Lantas muncul gagasan untuk memadukan nasi putih, jagung dan tiwul menjadi nasi Goreng.

“Sudah banyak masakan nasi putih digoreng pake saos. Karena kita punya ide untuk memadukan nasi putih, jagung dan tiwul menjadi nasi goreng. Mencoba Inovasi baru, kalau pakai tiwul kan ada rasa pahit-pahitnya sedikit tapi enak,” terang Weni.

Saat di makan, rasa pahit dari tiwul, sekejap digantikan dengan rasa asin dan pedas. Tentu saja cocok dinikmati bersama udara dingin wilayah Wonosalam.

 

Sabtu, (09/02/2019) tim sumogambar, mencoba mencicipi masakan khas Wonosalam ini. Tak ingin berlama-lama, seporsi Nasi Goreng Tiwul sebagai pembuktian. Setelah dipersilahkan mencicipi oleh sang juru masak, suap demi suap nasi masuk ke mulut enggan untuk berhenti. Rasa pedas, asin dan gurih terus saja memanjakan lidah.

Rasa nikmat Nasi Goreng Tiwul belum usai, semangkok kolak durian menunggu untuk dimakan. Jelajah lidah tidak berhenti begitu saja, dengan tangkasnya tangan langsung menyambar sendok dan mencicipi rasa dari kolak durian.

Rasa segar dari kuah kolak sedikit memicu insting untuk meneruskan suap demi suap hingga melahap habis semangkok kolak durian. Prediksi dalam benak ternyata benar, nikmat Nasi Goreng Tiwul akan berpadu nikmat dengan manis kuah kolak durian berpadu dengan rasa gurih dari ketan hitam, viola!


Selain Nasi Goreng Tiwul ada Durian Bakar

Untuk semua sensasi rasa dari kuliner khas Wonosalam, penikmat kuliner patut mencoba. Penikmat kuliner jika hendak berkunjung ke Wonosalam. Pengunjung jika dari pusat kota, bisa melalui persimpangan stasiun kereta api Jombang dan berjalan ke arah selatan sampai pertigaan pabrik Gula Tjokir, Desa Cukir, Kecamatan Diwek, kemudian belok ke kiri atau ke arah timur.

Setalah menempuh jarak sekitar 20 kilometer, pengunjung akan memasuki Kecamatan Wonosalam. Untuk memudahkan menuju lokasi masakan khas Wonosalam, pengunjung bisa bertanya rute menuju Dusun Sumber, Desa Wonosalam, Kecamatan Wonosalam.

Untuk saat ini, rekomendasi untuk menikmati Nasi Goreng Tiwul berada di Rumah Makan Durian, milik Ibu Sulami. Selain aneka nasi goreng, di rumah makan tersebut terdapat juga Kolak Durian dan inovasi baru makanan berbahan baku durian, yaitu Durian Bakar.

Untuk “Durian Bakar”, karena inovasi baru, masih terbatas referensinya. Namun, redaksi sumogambar mendapatkan bocoran dari sang pembuatnya langsung.

Dia adalah Sarmiaji (45), warga Banjarsari, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang. Langkah pembuatan cukuplah sederhana, bahan utama buah durian dikeluarkan dari kulitnya, lalu dibakar diatas bara api dari arang kayu selama beberapa menit sampai keluar aroma sedap durian terbakar.

Setelah matang, buah durian dikembalikan kedalam kulitnya kembali. Sebagai daya tarik, ditambahkan toping ketan hitam dan putih beserta daging aneka buah-buahan sesuai selera.

Panen melimpah durian jadi alasan Sarmiaji untuk mencari Inovasi baru. Berawal dari akhir tahun 2016, saat panen raya durian, Sarmiaji membuat terobosan menciptakan makanan baru berbahan baku durian. Hingga lahirlah durian bakar dengan langkah pertama pemasaran melalui pelanggan lokal sekitar Kecamatan Wonosalam, dan sampai tahun 2019 ini, Sarmiaji masih memasarkan Durian Bakar buatannya melalui penjualan online.

“Awalnya memanfaatkan momen, selanjutnya karena panen melimpah memunculkan ide untuk menemukan alternatif menjual durian selain dalam bentuk buah biasa. Ditemukanlah durian bakar dengan sistem penjualan dengan online,” kata Sarmiaji.

Menurut Sarmiaji, peminat Durian bakar cukup banyak. Usaha ini sudah berjalan selama dua tahun, dari evaluasi penjualan sampai tahun 2019 sudah ada peningkatan. Konsumen awalnya datang untuk mencari durian, tapi kemudian penasaran dengan adanya Durian Bakar ini.

Tingkat penjualan tidak menentu, jika hari libur atau wekend penjualan Durian Bakar bisa mencapai lebih dari 50 biji. Selain Durian Bakar, Sarmiaji juga melakukan inovasi pengembangan makanan berbahan baku durian, diantaranya yang pernah dibuat adalah Kebab durian, Sushi durian, dan Jemblem durian. Untuk pesanan makanan inovasi baru ini, masih terbatas pesanan khusus sesuai permintaan pembeli.

“Memaksimalkan makanan dari bahn baku durian, inovasi ini Insya Allah baru pertama kali ada di Wonosalam,” terang Sarmiaji.

Mengenai harga cukup ekonomis. Menikmati Nasi GorengTiwul, pengunjung hanya dikenakan biaya 8 ribu rupiah. Jika menambahkan makanan kolak durian hanya menambahkan biaya sebesar 6 ribu rupiah. Sedangkan untuk menikmati menu Durian Bakar, Rumah Makan Durian juga menyediakan dengan harga 12 ribu rupiah satu porsi.

Pengunjung bisa menikmati sensasi udara dingin khas wilayah pegunungan ditemani dengan masakan khasnya. Bisa menjadi alternatif tempat tujuan wisata kuliner, tentu saja dengan harga ekonomis tidak membuat kantong jebol.

Penulis juga merekomendasikan, selain menikmati Nasi Goreng Tiwul, Kolak Durian, dan Durian Goreng, wisatawan yang hendak ke Wonosalam bisa juga memburu durian khas Wonosalam. Warga setempat menyebutnya durian Bido. Selamat menikmati liburan anda.

Bagikan:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments

Caleg Berbasis Iklan: Menghasilkan Wakil Rakyat Sebatas Kejar Setoran

Potret Wisata Jombang, Kedung Cinet dalam Harapan dan Ironi