in

Revolusi Industri 4.0

Ilustrasi Revolusi Industri - FOTO/Istock

sumogambar – Istilah Revolusi Industri 4.0 sempat menjadi ulasan dalam Debat Kedua Calon Presiden (Capres) 2019 beberapa waktu lalu. Revolusy Industri 4.0 bukan istilah baru. Istilah Industry 4.0 pertama kali digemakan pada Hannover Fair, 4-8 April 2011. Istilah ini digunakan oleh pemerintah Jerman untuk memajukan bidang industri ke tingkat selanjutnya, dengan bantuan teknologi.

Lantas beberapa negara lain turut serta mewujudkan konsep industri 4.0 dengan berbagai istilah. Dilansir dari Jurnal Teknik Industri, Volume 13, No. 1, Januari 2018 “Industri 4.0: Telaah Klasifikasi Aspek Dan Arah Perkembangan Riset”, istilah 4.0 yang dipakai negara lain seperti Smart Factories, Industrial Internet of Things, Smart Industry, atau Advanced Manufacturing. Meski memiliki penyebutan istilah yang berbeda, semuanya memiliki tujuan yang sama yaitu untuk meningkatkan daya saing industri tiap negara dalam menghadapi pasar global yang sangat dinamis. Kondisi tersebut diakibatkan oleh pesatnya perkembangan pemanfataan teknologi digital di berbagai bidang.

Berikut penjelasan pemerintah melalui kementrian perindustrian mengenai Revolusi Industri 4.0. Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto pada acara Sosialisasi Roadmap Implementasi Industry 4.0 di Jakarta, Selasa (20/3/2018) mengatakan revolusi industri generasi pertama ditandai oleh penggunaan mesin uap untuk menggantikan tenaga manusia dan hewan.

Kemudian, generasi kedua, melalui penerapan konsep produksi massal dan mulai dimanfaatkannya tenaga listrik. Dan, generasi ketiga, ditandai dengan penggunaan teknologi otomasi dalam kegiatan industri.

“Padarevolusi industri keempat, menjadi lompatan besar bagi sektor industri, dimana teknologi informasi dan komunikasi dimanfaatkan sepenuhnya.Tidak hanya dalam proses produksi, melainkan juga di seluruh rantai nilai industri sehingga melahirkan model bisnis yang baru dengan basis digital guna mencapai efisiensi yang tinggi dan kualitas produk yang lebih baik,” kata Menperin.

Untuk itu, sektor industri nasional perlu banyak pembenahan terutama dalam aspek penguasaan teknologi yang menjadi kunci penentu daya saing di era Industry 4.0. Adapun lima teknologi utama yang menopang pembangunan sistem Industry 4.0, yaitu Internet of Things, Artificial Intelligence, Human–Machine Interface, teknologi robotik dan sensor, serta teknologi 3D Printing.

Selain itu, Erlangga juga menyampaikan untuk menuju revolusi ke-4, pihaknya juga sudah menyiapkan 4 langkah strategis untuk mewujudkannya. Hal tersebut disampaikan oleh Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto di sela agendannya menghadiri World Economic Forum on ASEAN 2017 di Phnom Penh, Kamboja, Jumat (12/5/2019). Adapun keempat strategi yang dimaksud, diantaranya :

Pertama, menurut Airlangga, pihaknya tengah mendorong agar angkatan kerja di Indonesia terus belajar dan meningkatkan keterampilannya untuk memahami penggunaan teknologi internet of things atau mengintegrasikan kemampuan internet dengan lini produksi di industri.

 

“Guna mendukung upaya tersebut, kami juga menginisiasi pelaksanaan pendidikan vokasi yang link and match antara SMK dengan industri,” ujarnya. Pengembangan program ini sekaligus menyiapkan tenaga kerja terampil yang siap pakai di dunia industri dengan target mencapai satu juta orang pada 2019.

Kedua, pemanfaatan teknologi digital untuk memacu produktivitas dan daya saing bagi industri kecil dan menengah (IKM) sehingga mampu menembus pasar ekspor melalui program e-smart IKM. “Program e-smart IKM ini merupakan upaya juga memperluas pasar dalam rantai nilai dunia dan menghadapi era Industry 4.0,” imbuhnya.

Ketiga, lanjut Airlangga, pihaknya meminta kepada industri nasional dapat menggunakan teknologi digital seperti Big Data, Autonomous Robots, Cybersecurity, Cloud, dan Augmented Reality. “Sistem Industry 4.0 ini akan memberikan keuntungan bagi industri, misalnya menaikkan efisiensi dan mengurangi biaya sekitar 12-15 persen,” ungkapnya.

Airlangga menyebutkan, sejumlah sektor industri nasional telah memasuki era Industry 4.0, di antaranya industri semen, petrokimia, otomotif, serta makanan dan minuman. “Misalnya industri otomotif, dalam proses produksinya, mereka sudah menggunakan sistem robotic dan infrastruktur internet of things,” tuturnya.

Kemudian, di industri makanan dan minuman, teknologi Industry 4.0 diterapkan pada pemilihan bahan baku, tetapi untuk proses pengemasannya tetap menggunakan tenaga manusia. “Jadi kombinasi tersebut masih labour intensive, tidak menggantikan,” tegasnya.

Keempat, yang diperlukan adalah inovasi teknologi melalui pengembangan startup dengan memfasilitasi tempat inkubasi bisnis. Upaya ini telah dilakukan Kementerian Perindustrian dengan mendorong penciptaan wirausaha berbasis teknologi yang dihasilkan dari beberapa technopark yang dibangun di beberapa wilayah di Indonesia, seperti di Bandung (Bandung Techno Park), Denpasar (TohpaTI Center), Semarang (Incubator Business Center Semarang), Makassar (Makassar Techno Park – Rumah Software Indonesia, dan Batam (Pusat Desain Ponsel).

“Pusat pengembangan inovasi tersebut juga akan ditambah dengan Innovation Center milik Apple. Jadi dari seluruh  ekosistem ini, kami ingin merajut kebijakan straegis ke depan untuk memacu pertumbuhan dan daya saing industri nasional, termasuk menyiapkan insentifnya,” paparnya.

Menunjang sejauh mana kesiapan Indonesia menghadapi Revolusi Industri 4.0. Kementerian Perindustrian akan meluncurkan indikator penilaian untuk tingkat kesiapan industri di Indonesia dalam menerapkan teknologi era industri 4.0 atau disebut Indonesia Industry 4.0 Readiness Index (INDI 4.0). Metode asesmen INDI 4.0 ini merupakan salah satu tahap implementasi peta jalan Making Indonesia 4.0.

“INDI 4.0 merupakan sebuah indeks acuan yang digunakan oleh industri dan pemerintah untuk mengukur tingkat kesiapan menuju industri 4.0.,” kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kemenperin Ngakan Timur Antara di Jakarta, Kamis (17/1).

Menurut Ngakan, hasil pengukuran INDI 4.0 juga akan menjadi patokan dalam mengidentifikasi tantangan serta menentukan strategi dan kebijakan pemerintah guna mendorong sektor manufaktur bertransformasi menuju industri 4.0.

“Dalam indeks tersebut masing-masing industri melakukan penilaian mandiri (self-assessment) terhadap kemampuan mereka di bidang-bidang terkait revolusi industri 4.0 dan ini adalah program prioritas kami di tahun 2019,” paparnya.

Menurut Ngakan lebih lanjut, adapun lima pilar yang akan diukur di dalam INDI 4.0, yaitu manajemen dan organisasi (management and organization), orang dan budaya (people and culture), produk dan layanan (product and services), teknologi (technology), serta operasi pabrik (factory operation). Kemudian dari lima pilar tersebut, dirinci lagi menjadi 17 bidang, yakni strategi dan kepemimpinan, investasi menuju industri 4.0, kebijakan inovasi, budaya, keterbukaan terhadap perubahan, pengembangan kompetensi, kustomisasi produk, layanan berbasis data, produk cerdas, serta keamanan cyber.

Selanjutnya, konektivitas, mesin cerdas, digitalisasi, sistem perawatan cerdas, proses yang otonom, rantai pasok dan logistik cerdas, penyimpanan, serta sharing data. “Dari 17 bidang inilah yang dijadikan acuan untuk mengukur kesiapan industri di Indonesia untuk bertransformasi menuju Industri 4.0,” ujar Ngakan.

Semetara itu, mengenai rentang skor penilaian, yang digunakan di dalam INDI 4.0 adalah dari level 0 sampai level 4. Level 0 artinya industri “belum siap” bertransformasi ke industri 4.0, kemudian level 1: industri masih pada tahap “kesiapan awal”, level 2: industri pada tahap “kesiapan sedang”, level 3: industri sudah pada tahap “kesiapan matang” bertransformasi ke industri 4.0, dan level 4: industri “sudah menerapkan” sebagian besar konsep industri 4.0 di sistem produksinya.


Kekhawatiran dan Harapan

Ketua Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia (KPBI) Ilhamsyah menganggap revolusi industri 4.0 cenderung akan mematikan langkah tenaga kerja manusia untuk dipekerjakan. Pasalnya, era revolusi industri akan banyak menggunakan teknologi dari segi pengolahan dan industri, menggantikan pekerjaan yang selama ini dilakukan manusia.

Tenaga manusia akan kalah saing dengan robot. “Ini akan menjadi bencana bagi manusia. Tenaga kerja tidak terserap, pengangguran smeakin banyak di mana-mana,” ujar Ilhamsyah dalam diskusi di Jakarta, Sabtu (9/2/2019).

Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) mengungkapkan bahwa era industri 4.0 mengubah pola bisnis konvensional ke arah online. Hal itu diungkapkannya saat acara Kuliah Umum Wakil Presiden dengan tema Indonesia and The World: Future Trajectory, Opportunity and Challenges di Hotel Mandarin Oriental, Jakarta, Kamis (17/1/2019).

“Banyak anak muda yang berbisnis seperti itu mengubah cara pandang, itu pengaruh teknologi, harapan yang dijual, data yang dijual, jadi bagaimana kita mengatasi hal itu,” Kata JK.

Lebih lanjut, JK Revolusi industri yang serba digital ini dianggap momen terbaik dalam mengenalkan lebih banyak para pelaku usaha tanah air. Sehingga bisa menduniakan para pelaku usaha kecil.

Dalam penjelasan berbeda, Ketua DPP Golkar Bidang ekonomi, Arche Harahap mengingatkan pemerintah untuk memikirkan nasib pekerja.  Menurutnya, setiap revolusi industri akan membawa dampak pada tenaga kerja. Pasalnya peran manusia sebagai tenaga kerja akan tergantikan.

“Impact-nya shifting job. Contoh revolusi industri, sebelumnya ada 10 petani dengan adanya traktor yang dibutuhkan tinggal tiga petani ketika ada teraktor petani banyak beralih ke industri,” kata Arche, dalam sebuah diskusi di kawasan Cikini, Jakarta, Sabtu (7/7/2018).

Industri 4.0 punya potensi untuk menciptakan adanya pengangguran. Masuknya peran teknologi dalam semua aspek kehidupan, disatu sisi akan membawa efisiensi dalam pekerjaan dan di sisi lain akan mengurangi peranan tenaga manusia dalam prakteknya.

Jika mengingat karakter industri Indonesia yang masih manufaktur dengan sifat produksi menggunakan tenaga kerja massal tentu akan berimbas langsung dengan terciptanya pengangguran baru. Disinilah pemerintah dituntut untuk mencari potensi untuk mengatasi pengangguran, selain kesempatan kerja luas tapi juga meningkatkan kemampuan SDM Indonesia?

Bagikan:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments

Prabowo Puji Jokowi, ini Respon Sandi dan TKN Jokowi

Rilis Pers: Golput dan Kampanye Golput bukan Tindak Pidana