in

Lika Liku Perjalanan Hidup Jakob Oetama

Jakob Oetama - FOTO/Kompas

 “…Kompas sebagai koran terbesar memiliki peran untuk menyumbangkan sesuatu values kepada masyarakat demi kebaikan pada masa depan..” — Jakob Oetama

sumogambar – Siapa yang tak kenal dengan pendiri surat kabar Kompas, Jakob Oetama atau sering disebut Jakobus Oetama. Lahir dari pasangan keluarga sederhana dengan passion dan background pendidikan, ayahnya bernama Raymundus Josef Sandiyo Brotosoesiswo seorang pensiunan guru dari sekolahan wilayah Sleman dan Ibunya, Margaretha Kartonah.

Pria kelahiran 27 September 1931  di desa Jowahan 500 meter di sebelah timur candi Borobudur Magelang, Jawa Tengah, telah menjadi Presiden Direktur dari Kelompok Kompas-Gramedia. Jakob yang memiliki 2 orang anak perempuan Lilik Oetama dan lelaki Irwan Oetama, mulai menunjukkan ketertarikannya ke dunia pers dan jurnalis sejak semasa muda. Setelah mengemban ilmu dengan menamatkan pendidikan di SMA Seminari Yogyakarta, dan mencari pengalaman sebagai guru pengajar di SMP Mardiyuwana (1952) dan SMP Van Lith Jakarta (1953).

Pada usia ke 24, Jakob Oetama aktif menjadi tim redaktur mingguan menjadi editor Majalah Penabur Jakarta (1955), selanjutnya karena memiliki passion besar terhadap jurnalistik Jakob melanjutkan studinya di 2 universitas sekaligus yakni di Perguruan TInggi Publistik Jakarta (1959) dan berkuliah di Fakultas Ilmu Sosial politik Universitas Gadjah Mada (1961).

Kemudian pada era 60-an Jakob memilik teman bernama Ojong yang juga satu tim di pengurusan Sarjana Katolik Indonesia, dari situlah dirinya mendapat relasi jurnalistik seperti Soe Hok Gie, Prof. Widjojo Nitisastro, Arief Budiman dan beberapa tokoh lainnya. Dan akhirnya Jakob bekerjasama dengan Ojong mengelola Majalah Intisari.

Dari Majalah Intisari yang terbit pada bulan Agustus 1963 inilah, yang memuat beragam konten perkembangan ilmu pengetahuan, sains dan teknologi di berbagai penjuru dunia. Tak hanya berasama dengan Ojong, Jakob juga dibantu sahabatnya dari Yogyakarta, seperti Swantoro, J. Adisubrata, Indra Gunawan dan Kurnia Munaba yang memiliki kiblat di Reader’s Digest besutan Amerika. Dari situlah Majalah Intisari menyajikan berita-berta intelek serta kompeten yang diharapkan membawa pengaruh positif bagi dunia pengetahuan Indonesia.

Jakob Oetama yang kenal sebagai sosok jurnalis pemerhati dunia pers sejak awal dekade 60-an, serta mendulang kesuksesan mengasuh Majalah Intisari. Bersama rekan-rekannya, Jakob akhirnya menerbitkan surat kabar harian bernama Kompas pada tahun 1965. Diberinya nama Kompas ini dari usulan Bung Karno disaat berdiskusi dengan tim pengurus Yayasan Bentara Rakyat.

Konten yang diberikan oleh surat kabar harian Kompas lebih menjunjung tinggi nilai-nilai independen sumber berita yang digali secara mandiri dnegan mengutamakan kecermatan dibidang profesi dan moral pemberitaan. Akhirnya, Kompas berkembang pesat dengan menyampaikan pemberitaan yang berkualitas serta mengedepankan konten informasi dan edukatif untuk pembacanya. Kemudian, tak lepas dari situ saja, Jakob juga mendirikan sebuah kelompok usaha bernama Kompas Gramedia, yang tak lain Gramedia ini dipergunakan sebagai lebel usaha toko buku, yang bertanggung jawab atas proses produksi dan pencetakan surat kabar harian kompas.

Selain itu, dibawah kendali Jakob Oetama, Kompas Gramedia sukses melebarkan sayap ke bidang suaha seperti, di media pertelevisian serta bisnis perhotelan. Sosok dirinya yang Humble, sangatlah menginspirasi dedikasi perkembangan Jurnalistik dan dunia pers di Indonesia. Hingga sering berkontribusi dalam berbagai organisasi dalam dan luar negeri.

Dalam berorganisasi, Jakob pernah menjabat menjadi Sekjen dan Dewan Penasihat Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) serta menjadi anggota asosiasi internasional Alumni Pusat Timur Barat Honolulu, Hawaii, Amerika Serikat. Selain itu, kontribusi yang diberikannya juga pernah menjadi, Pendiri dan Anggota Dewan Kantor Berita Nasional Indonesia, Anggota Dewan Penasihat PWI, Anggota Dewan Federation Internationale Des Editeurs De Journaux (FIEJ), Ketua Bidang Organisasi dan Manajemen Serikat Penerbit Surat Kabar dan Penasihat Konfederasi Wartawan ASEAN dan Anggota DPR Utusan Golongan Pers.

Meskipun pernah berkiprah sebagai politikus, tidak lupa untuk selalu aktif menyuarakan dan menyalurkan aspirasi maupun suara rakyat dengan memanfaatkan posisinya sebagai anggota DPR utusan golongan pers. Bahkan, Jakob juga  mendapatkan gelar doktor honoris causa ke-18 dari Universitas Gajah Mada, karena telah mendedikaskan kurtur jurnalistik dan dunia pers yang jujur serta mengedukatif bagi Indonesia sejak tahun 1965.

Tentu hal itu bisa menjadi inspirasi yang dipahami dan diteladani oleh seluruh pembaca dan generasi muda, bahwa keberadaan pers adalah salah satu elemen penting dalam penyebaran ilmu pengetahuan dan informasi bagi sebuah bangsa tanah air ini.

“Surat kabar ini karena keyakinannya dan karena realitas masyarakat Indonesia berusaha ikut mengembangkan saling pengertian yang kreatif antara berbagai kelompok subkultur masyarakat dengan tujuan agar masyarakat kita mampu berfungsi dalam keberagamannya,” tertuang di Tajuk Rencana, 28 Juni 1980,


Saat Harian Kompas berulang tahun ke-15

Karier jurnalistik Jakob tahun 80-an Kompas Gramedia Group mulai berkembang pesat, terutama dalam bidang komunikasi. Saat ini, Kompas Gramedia Group memiliki beberapa anak perusahaan/bisnis unit yang bervariatif dari media massa, toko buku, percetakan, radio, hotel, lembaga pendidikan, event organizer, stasiun TV hingga universitas. Selain itu, bersama dengan Jusuf Wanandi, Muhammad Chudori, Eric Samola, Fikri Jufri, Goenawan Mohamad, H. G. Rorimpandey dan Harmoko, Jakob Oetama juga ikut mendirikan Jakarta Post, harian nasional Indonesia berbahasa Inggris.

“Kompas adalah lingkungan komunitas, lingkungan kecil, masyarakat kekeluargaan. Kita di sini menjunjung tinggi dan mengamalkan martabat manusia, aspirasinya yang hakiki. Kita adalah penunjang persamaan manusia. Itulah sebabnya, di sini tidak ada perbedaan yang disebabkan oleh masalah suku bangsa, keturunan, agama, latar belakang sosial, dan sebagainya,” tulis di Visual Interaktif Kompas ‘The Legacy Jakob Oetama’.

Warisan nilai yang ditinggalkan Jakob yang menjadi tonggak tidak hanya bagi jurnalisme yang dihidupi oleh para wartawan Kompas dan grup Kompas Gramedia tetapi juga warisan yang mewarnai perjalanan jurnalisme Indonesia. Jakob tidak meninggalkan sebuah warisan nilai dalam sebuah tuturan yang sistematis. Beragam pandangan dan gagasannya tentang jurnalisme dan menjadi wartawan disampaikannya secara lisan dalam sejumlah kesempatan saat berinteraksi dengan wartawan-wartawannya.

“Saingan memang akan makin keras, seperti yang kita alami sekarang di Indonesia. Kalau isinya hanya serius membosankan, yah bagaimanapun seriusnya, media itu melekat secara inheren fungsi entertainment, fungsi yang menarik dan menghibur. Tentu bentuknya disesuaikan dengan sosok dari koran itu masing-masing. Kalau mengenai values sebuah media itu kan hidup di masyarakatnya. Di Indonesia, Kompas sebagai koran terbesar memiliki peran untuk menyumbangkan sesuatu values kepada masyarakat demi kebaikan pada masa depan,” tegas Jakob Oetama.

Berdasarkan pengalamannya lebih dari 4 dekade mengelola media, Jakob Oetama percaya bahwa koran tak akan mati kendati serbuan dari medium lain seperti televisi dan Internet kian gencar. Dia menyebut apa yang disajikantelevisi dan Internet itu sebagai tontonan. Dan itu tak cukup. Surat kabarlah yang mengisi kekosongan itu dengan sajian yang lebih mendalam, tetapi juga dengan formula yang tetap menghibur.

Kendati begitu, Jakob mengakui peran penting televisi. Dia juga mengaku menyesal telah melepaskan TV7, yang awalnya dimiliki Kompas Gramedia, terlalu cepat. Pada masa kini, katanya, untuk menjangkau seluruh masyarakat mau tak mau harus melalui televisi. Dalam soal Internet, Kompas telah mengembangkan Kompas Cyber Media. Belakangan, layanan blog Kompasiana semakin populer. Grup itu bahkan mengantisipasi hadirnya era multimedia dengan membangun Universitas Multimedia Nusantara. Agaknya, meskipun Jakob Oetama percaya koran tidak akan mati, grup tersebut juga all out dalam menyongsong era multimedia.

“Saya sangat terbantu dan diperkaya oleh kepekaan humaniora yang terpupuk dan berkembang berkat pendidikan di seminari menengah,” kata Jakob sebagaimana dituturkan dalam buku Syukur Tiada Akhir.

Warisan hati dari pendidikan itu kemudian diperkaya oleh minatnya untuk mendalami ilmu-ilmu kemanusiaan, seperti falsafah dan sastra klasik, lalu ditunjang oleh kegemarannya mendalami secara komprehensif masalah-masalah sosial budaya dan sosial ekonomi.

Meski cita-cita menjadi guru mulai pudar, hal itu tidak berarti goyah. Lulus B-1 Sejarah dengan nilai rata-rata 9, Jakob direkomendasikan memperoleh beasiswa di University of Columbia, Amerika Serikat, oleh salah satu guru sejarahnya, seorang pastor Belanda, Van den Berg, SJ. Arahannya, Jakob memperoleh gelar PhD dan kelak menjadi sejarawan atau dosen sejarah.

“Itulah titik balik ke masa depan yang harus saya gulati. Menjadi wartawan profesional, bukan guru profesional,” kata Jakob.

Bagikan:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments

Pemimpin yang Memanusiakan

Order Fiktif Ojol, Berujung Jeruji Besi