in

Pintu Strategis Pertanian Pesantren, Suryo Alam: Selain Jadi Kyai, Santri Bisa Budidayakan Hortikultura

 Sumogambar – Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) bekerjasama dengan Pusat Kajian Hortikultura Tropika (PKHT) Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) – Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Anggota Komisi DPRD RI, HM Suryo Alam, guna menggandeng potensi pengembangan pertanian agribisnis berbasis kawasan di lingkup masyarakat kecil beserta kalangan santri di Pondok Pesantren Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

Acara sosialisasi penelitian tanaman hortikultura varietas buah ini, mengusung tema “Pelatihan Pengembangan Buah Unggulan Indonesia” dalam program difusi produk inovasi kepada masyarakat khususnya untuk para sejumlah santri di kawasan Ponpes di Kota Santri. Gelaran ini diselenggarakan di lantai satu Hotel Yusro yang berada di Jalan Soekarno – Hatta Kecamatan Peterongan, Jombang, Kamis (06/03/2019) pukul 09.00 WIB.

Sebagai pondasi awal pelaksanaan penelitian kegiatan program tersebut, agar berupaya untuk membutuhkan kerjasama yang sangat erat antara berbagai instansi pemerintah dan anggota dewan legislatif untuk mengembangkan tanaman hortikultura unggulan yang berinovasi dari masyarakat petani kecil yang dikhususkan kepada para santri yang sedang mengembangkan potensi di sektor varietas buah-buahan di Kota Santri.

“Hasil penelitian ini yang digelar oleh PKHT serta LPPM-IPB sebagai mitra Komisi X DPR RI kepada masyarakat. Kebetulan kali ini audiennya para santri serta tokoh masyarakat dan dengan adanya acara ini, kita juga memberikan tanaman-tanaman yang  produktif kepada mereka,” kata anggota Komisi X DPR RI, HM Suryo Alam kepada Sumogambar di sela acara Pelatihan Pengembangan Buah Unggulan Indonesia di Hotel Yusro Jombang.

Dalam tanaman hortikultura adalah tanaman yang berbasis budidaya kebun. Dengan seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, saat ini tanaman hortikultura tak hanya lingkup tanaman kebun saja, tetapi juga sudah termasuk dalam dunia pembibitan, perbenihan, kultur jaringan, produksi tanaman, hama dan penyakit dan aspek-aspek lainnya yang menyangkut tanaman dengan budidaya kebun.

Dengan begitu, hortikultura sendiri merupakan bagian dari agronomi. Namun, berbeda dari agronomi, hortikultura justru memfokuskan peranan budidaya pada jenis tanaman buah, bunga, sayuran, obat-obatan, dan lansekap atau yang sering disebut taman.

Menurut Suryo Alam dari fraksi Golkar, pelatihan tentang hortikultura memang sengaja diberikan kepada kalangan santri di Jombang. Karena Kabupaten Jombang ini lebih banyak dikenal di luar kota dengan sebutan kota santri. Dari situ, banyak santriwan-santriwati pengemban ilmu di lingkup pesantren yang memiliki jumlah santri yang mencapai ribuan di Jombang.

“Tadi saya menyampaikan kepada seluruh para undangan yang hadir. Kalau kita mau hidup satu tahun itu tanam padi, kalau kita mau hidup ribuan tahun menanam pohon, nah kalau kita mau hidup sepanjang masa itu ilmu. Para santri ini, orang-orang yang sedang mencari ilmu dan sedang menanam,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Suryo Alam juga menyampaikan, dengan dikhususkannya para santri untuk lebih mengerti dalam pelatihan ini agar supaya mengerti mana varietas buah unggulan yang layak dikembangkan ketika kembali ke kotanya masing-masing. Apalagi para santri ini waktunya tidaklah lama, setelah selesai menimba ilmu di Ponpes Jombang selain bergerak di sektor pertanian, kelak diharapkan bisa menjadi kyai besar dan tersebar di Indonesia, dengan begitu mereka juga bisa menuai hasil dari pendidikan agama yang kuat dan juga bisa membudidayakan tanaman hortikultura.

“Jadi insyaallah saat beliau-beliau itu sudah sukses dan menjadi kyai-kyai, akan menerima hasil yang ditanam dan santri disini tersebar luas disini, makannya Jombang disebut kota santri jadi hal ini lebih kepada para santri dalam membudidayakan tanaman hortikultura,” harapannya.

Maka perlu upaya budidaya yang memang sesuai supaya target produksi bisa tetap tercapai. Artinya teknis budidaya ini bisa menghasilkan kualitas terbaik. Contoh tanaman buah yang banyak diperlukan oleh masyarakat adalah, durian, rambutan, nanas, mangga, jambu, jeruk, dan lain sebagainya. Dari acara tersebut, para tamu undangan juga mendapatkan 5 jenis varietas tanaman hortikultura yang disosialisasikan ini dari penjelasan Suryo Alam.

“Kali ini ada lima jenis, ada durian, alpukat, jeruk manis, jambu Kristal, dan juga ada papaya, yang akan kita bagikan kepada mereka untuk ditanam di rumah, dan dilingkungan sekitarnya,” tegasnya.

Selain tanaman buah-buahan, ada tanaman sayuran yang sering dibutuhkan oleh setiap masyarakat dalam konsumsi sehari-hari bersama dengan nasi sebagai bahan pokok makanannya yang dikonsumsi masyarakat. Seperti contohnya, kangkung, bayam, kubis, kacang-kacangan, sawi, ataupun yang lainnya.

Kemudian, ada juga tanaman hias yang bisa membantu mengurangi tingkat stres terutama pada masyarakat perkotaan, itu juga masuk dalam tanaman hortikultura yang perlu dibudidayakan di kebun. Bahkan, tanaman obat dan herbal semakin banyak dibutuhkan dikalangan masyarakat ini bisa menjadikan metode pengobatan alami sebagai rujukan menjaga kesehatan.

Sebelumnya, Kementerian Pertanian menggandeng MUI  serta Koperasi Mitra Santri Nasional (KMSN) guna memperkuat pembangunan pertanian  dengan menjalin kerjasama untuk membangkitkan potensi agribisnis berbasis kawasan pada pertengahan tahun 2018. Dalam sambutan Menteri Pertanian RI, Dr. Andi Amran Sulaiman telah mengungkapkan berbagai terobosan dan capaian Kementan sejak tahun 2015 telah membongkar regulasi dan proporsi anggaran agar lebih pro rakyat. Pada tahun 2014 sebesar 35% porsi anggaran disiapkan untuk rakyat, kemudian di tahun 2018 telah naik sebesar 85% anggaran Kementerian disiapkan untuk rakyat, sisanya saja untuk Kementerian.  Ia juga menyampaikan capaian ekspor Indonesia dari berbagai komoditas seperti jagung, bawang merah, domba, telur ayam dan komoditas lainnya.

Dengan menggandeng para santri di KMSN, juga diakui oleh Ketua MUI, Prof Ma’ruf Amin menerangkan, Mentan diakuinya responsif terhadap konsep arus balik ekonomi Indonesia, mendukung pemberdayaan ekonomi dari bawah.  Prinsipnya menguatkan yang lemah, yang kuat tetap kuat dan para ulama turut mengambil bagian dalam menurunkan kemiskinan di Indonesia. Didistribusi itu juga untuk ekonomi produktif pesantren dan koperasi. Jadi potensi potensi budidaya pertanian akan digerakkan melalui pola kemitraan dengan konglomerasi.

Tentu, pesantren memiliki peran strategis yang dipercaya mampu mendukung pembangunan perekonomian nasional. Basis pemberdayaan ada di pesantren karena pesantren tidak hanya menyiapkan ulama saja, akan tetapi juga melahirkan generasi santri mandiri, pesantren turut mendukung program ketahanan pangan pemerintah dan pengembangan bisnis syariah karena umumnya usaha yang dikembangkan bergerak di sektor pertanian, perikanan dan sektor lainnya yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan pesantren.

Kembali ke potensi lokal kota santi dalam hasil riset hortikultura di acara tadi, Suryo Alam juga terlebih mengharapkan agar juga mampu meningkatkan ekonomi para santri. Anggota Komisi X fraksi Golkar ini nantinya juga mengembangkan wisata edukasi agrobisnis di kawasan Jombang.

“Kalau ini kan larinya pada individu, nanti kalau wisata kita adakan sifatnya kawasan lebih banyak yah. Ini kan cuman ada seribu tanaman dan rencana kemungkinan di akhir bulan kita adakan untuk yang kawasan dengan bibit tanaman 20.000 tanaman yang bisa ditanam di kawasan-kawasan yang membutuhkan tanaman itu dan bisa menjadi perkebunan juga nantinya,” tegasnya.

Sementara itu, Urip Sumoharjo (43), warga Dusun Dampak, Desa Panglungan, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang sebagai petani kopi di wilayah potensi agribisnis di area pegunungan kota santri mengungkapkan, menurutnya acara tersebut sangatlah membantu untuk masyarakat kecil khususnya untuk para santri-santri nanti selepas dari pendidikan belajar di Pesantren bisa mandiri.

Dalam sesi tanya jawab, Urip sempat menanyakan terkait faktor gagal panen disebabkan pertaniannya serta solusinya kepada dua narasumber dari Kemenristekdikti dari Pusat Kajian Hortikultura Tropika IPB, Dr Darda Efendi yang mengisi Penjelasan mengenai GAP Buah Nusantara dan Suryo Wiyono sebagai narasumber mengenai Hama dan Penyakit buah durian dan jeruk.

Dari jawaban yang disampaikan dua narasumber tersebut yang telah ditangkap oleh Urip yaitu, dikarenakan pengaruh buahnya karena lebih banyak terserang penyakit dan tidak bisa memanen bagus dikarenakan bahwa dalam penyemprotan pestisida terlalu banyak mengandung bahan kimia.

“Dalam solusinya agar panennya bagus, setiap pemupukan pertanian tidak terlalu banyak memberikan pestisida yang banyak bahan kimianya dan dianjurkan pakai pupuk NPK (sering dikenal pupuk buatan yang berbentuk cair atau padat yang mengandung unsur hara utama nitrogen, fosfor, serta kalium) dan pupuk organiknya harus selaras. Karena untuk memulihkan unsur-unsur hara yang ada di dalam tanah itu,” kata Urip.

Dengan begitu, tanaman hortikultura sangat bermanfaat bagi masyarakat dari kebutuhan makanan, serta bisa meningkatkan nilai kebahagiaan masyarakat sekaligus menurunkan tingkat stress masyarakat. Namun terkadang, tanaman ini juga berdampak negatif seperti adanya campuran zat kimia yang masuk ke dalam tanaman karena proses budidaya dan bisa menimbulkan tingkat kerusakan lingkungan akibat penggunaan bahan-bahan obat dan pupuk kimiawi oleh petani.

Jadi secara intensif tanpa memperhatikan kondisi lingkungan serta upaya penyeimbang dan penyehatannya. Salah satu cara untuk menyeimbangkan kesehatan lingkungan misalnya dengan penggunaan pupuk-pupuk organik untuk mengembalikan kondisi tanah. Dari situ, harus tentunya mengurangi penggunaan pestisida dan obat-obat kimiawi pada tanaman, dan cara-cara lainnya.

“Dengan adanya acara tadi yang biasanya masyarakat maupun para santri yang belum mengerti pendidikan tentang hortikultura, sekarang bisa mengerti. Dan saya pribadi juga mengharapkan, setelah mendapat pelatihan tadi bisa langsung diaplikasikan di lapangan maupun di perkebunannya,” pungkasnya.

Jadi apakah kalian sudah menyukai tanaman hortikultura. alangkah baiknya untuk mempelajari secara runtut dan mendalam tentang budidaya dan bisnis tanaman hortikultura.

 

Penulis: Taufiqur Rachman

Bagikan:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments

Pentas Durian Wonosalam, Unjuk Gigi Durian Lokal

Melihat Jaringan Narkoba Bekerja, Apa Langkah Penegak Hukum?