in

Kebakaran Lahan Gambut di Riau

Kebakaran Lahan Gambut di Riau - FOTO/Tempo

sumogambar – Baru-baru ini terjadi kebakaran hutan dan lahan Gambut di Riau, yang mana lebih dari 850 hektare lahan terbakar sejak awal 2019. Kebakaran terluas terjadi di Kabupaten Bengkalis. Upaya penanggulangan kebakaran pun masih terus dilakukan.

Salah satu daerah yang dilanda kebakaran di Riau adalah Desa Mumugo Kecamatan Tanah Putih, Kabupaten Rokan Hilir, Provinsi Riau , yang dinsinyalir disengaja untuk kepentingan perkebunan kelapa sawit. Luas kebakaran sudah mencapai 30 hektare mayoritas semak belukar.

Kepala Manggala Agni Daerah Operasi (Daops) Pekanbaru Edwin Putra mengatakan kebakaran hutan dan lahan di Desa Mumugo di areal peruntukan lain (APL) sebagian besar lahan mayarakat.

Dengan respons cepat, tim Satuan Tugas Gabungan dan Manggala Agni Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bergerak aktif memadamkan api yang membakar hutan dan lahan di wilayah Provinsi Riau dan Sumatera Utara (Sumut) akibat El Nino lemah.

Gambut bisa pula menjadi pemicu bencana ekologis, seperti kabut asap yang bisa saja memakan korban jiwa. Hal ini disebabkan pembuatan kanal untuk mengeringkannya tanpa ada tindakan membasahkannya lagi.

Hingga kini, tercatat 2,5 juta hektare lahan gambut luluh lantak, termasuk di Riau. Keseimbangan ekosistemnya hilang karena pembukaan hutan tanaman industri, perkebunan oleh korporasi ataupun masyarakat secara massif sejak belasan tahun belakangan.

Menurut Kepala Badan Restorasi (BRG)Gambut Nazir Foead, butuh waktu berpuluh-puluh tahun mengembalikan ekosistem gambut seperti sedia kala. Salah satu cara yang bisa dilakukan sekarang adalah manajemen kanal, sumur bor dan embung (kolam).

Di Riau sendiri, sudah ada ribuan sekat kanal dan sumur bor dibangun BRG sebagai upaya restorasi. Pekerjaan sejak dua tahun lalu ini mulai menunjukkan hasil, di mana radius 2,5 kilometer dari sekat kanal ataupun sumur bor tidak lagi ada kebakaran hutan.

“Lantas pertanyaannya, kenapa masih ada kebakaran lahan gambut di Riau sampai sekarang?” kata Nazir di Desa Bandar Sungai, Kecamatan Sabak Auh, Kabupaten Siak, sebelum meninjau sekat kanal dan sumur bor yang dibangun bersama masyarakat sekitar. Dilansir dalam laporan liputan6.

Menurut Nazir, gambut yang terbakar itu berada di atas radius 2,5 kilometer dari sekat kanal ataupun sumur bor buatan BRG bersama warga. Oleh karena itu, pemerintah daerah dan masyarakat diminta membuat sekat kanal supaya tak terjadi lagi kebakaran.

Dengan sekat kanal, kebasahan gambut tetap terjaga. Sumur bor juga berfungsi bagi petani untuk mendapatkan sumber air guna membasahi gambut jika musim kemarau panjang datang.

“Ini yang kini tengah kami dorong bersama pemerintah untuk memperbanyak sekat kanal dan sumur bor ini. Tahun ini targetnya 450 sumur bor, 331 sekat dan embung dua, di Meranti, Siak, Bengkalis serta lokasi terbakar saat ini,” terang Nazir.

Pembuatan sekat dan sumur tentu saja tidak sembarangan. Tinggi muka air harus sesuai dengan kedalaman gambut, begitu juga dengan lebar sekat serta ketinggian pembendung.

Dampak kabut asap, kebakaran di Riau

Kebakaran lahan gambut di Kecamatan Rupat hingga saat ini belum bisa diatasi, malah makin meluas. Tim Satgas Karhutla, TNI, Polri, Manggala Agni dan dibantu masyarakat, terus berupaya mematikan api. Upaya pemadaman dilakukan melalui darat dan udara atau water bombing.

Titik api saat ini masih terdapat di Kelurahan Terkul, Kelurahan Pergam, Desa Sri Tanjung, Desa Teluk Lecah dan Desa Kebumen. Luas lahan yang terbakar saat ini sudah hampir seribu hektar. Akibat luas lahan gambut yang terbakar semakin bertambah, kabut asap juga semakin parah.

Kabut asap ini juga dikhawatirkan sampai ke Malaysia. Sebab, Kecamatan Rupat berbatasan langsung dengan Negeri Jiran tersebut.

Kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kecamatan Rupat, Kabupaten Bengkalis, Riau, sangat tebal, Minggu (24/2/2019) pagi sekitar pukul 08.00 WIB.

Jarak pandang mendatar hanya sekitar 200 meter.

Kabut asap yang menyelimuti permukiman warga ini, dampak dari karhutla yang semakin meluas di Kecamatan Rupat.

Menurut warga Kecamatan Rupat, Budiman (48), kabut asap hari ini sangat parah dibandingkan dari hari-hari sebelumnya.

“Ini sudah semakin parah. Susah bernapas,” kata Budiman dilansir dalam laporan Kompas.

Kondisi kabut asap tebal, menurut Budiman terjadi dalam tiga hari.

“Kondisi sekarang tampaknya semakin parah. Kabut asap ini sudah hampir dua pekan. Tapi tiga hari ini paling parah,” kata Budiman

Dia pun mengaku sudah merasakan dampak dari kabut asap gambut tersebut.

“Saya sudah sesak napas ini. Malam tadi juga sesak. Jarak pandang juga sudah terbatas. Sebelumnya ada sekitar 500 meter, tapi yang sekarang 200 meter,” ujar Budiman dengan bahasa Melayu.

KLHK soal kebakaran hutan

Direktur Penanggulangan Kebakaran Hutan KLHK, Raffles Pandjaitan. Satu suara dengan Jokowi, sebelumnya Jokowi menyampaikan “Dalam tiga tahun ini tidak terjadi kebakaran lahan, hutan, kebakaran lahan gambut dan itu adalah kerja keras kita semuanya,” kata Jokowi. Padahal, berdasarkan data Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup ( KLHK), masih terjadi kebakaran hutan selama 2016, 2017, dan 2018, meskipun angkanya konstan menunjukkan penurunan luas lahan yang terbakar.

Hal ini pun sempat menimbulkan kontroversi di tengah masyarakat. Hingga akhirnya Senin (18/2/2019) pagi Jokowi menjelaskan maksud pernyataannya semalam. “Artinya, bukan tidak ada (kebakaran hutan), turun drastis, turun 85 persen lebih,” kata Jokowi di sela-sela kunjungan hutan di Pandeglang, Banten.

Raffles Pandjaitan pun membenarkan bahwa kebakaran hutan memang masih terjadi. Hanya saja, peristiwa kebakaran hutan sudah menurun drastis, dan tidak ada lagi kebakaran hutan besar yang mengganggu jalannya rutinitas sehari-hari.

“Kalau kebakaran-kebakaran kecil langsung dipadamkan itu masih bisa ditangani tidak ada asap yang mengganggu penerbangan, tidak ada mengganggu sekolah, tidak ada libur, terus tidak ada mengganggu  transportasi darat, tidak ada penyebab penyakit, itu masih dikatakan belum bencana,” kata Raffles. Dilansir dalam laporan kompas.

“Maksud Pak Jokowi itu memang tiga tahun terakhir ini kita melakukan upaya yang sangat drastis,” ujar Raffles.

Raffles menjelaskan, upaya drastis itu juga terlihat dengan hasil penurunan luas lahan yang terbakar secara drastis dari tahun ke tahun. Pada 2015 terdapat 2,6 juta hektar lahan yang terbakar, pada 2016 turun menjadi 438.000 hektar, dan pada 2017 turun lagi menjadi 165.000 hektar.

“Nah itu yang dimaksud Pak Jokowi, tiga tahun ini tidak ada complain dari negara lain tentang asap. Tidak ada masyarakat kita tiga tahun terakhir yang menghirup asap, biasanya setiap tahun sebelum 2015 hampir tiap tahun mereka ngisep asap,” ujarnya.

Pemerintah Indonesia, menurut Raffles, diapresiasi oleh dunia internasional karena berhasil menghilangkan asap akibat kebakaran hutan yang biasanya setiap tahun mengganggu hingga wilayah negara tetangga.

“Itu yang harus diapresiasi sama masyarakat luas, orang harus melek, lah. Jangan hanya statement begitu dijadikan masalah,” kata Raffles.

Dampak Kebakaran Hutan Indonesia 1997, menurut para Ahli

Sementara itu Sebuah penelitian terbaru membahas dampak kebakaran hutan di Indonesia tahun 1997 silam terhadap pertumbuhan anak-anak saat ini. Kebakaran hutan pada tahun 1997 dianggap sebagai salah satu yang terburuk dalam sejarah. Dalam peristiwa tragis ini, 11 juta hektar tanah dibakar untuk tanaman baru. Akibatnya, asap dan kabut meluas hingga kota-kota terdekat di Brunei, Thailand, Vietnam, dan Filipina.

Sayangnya, menurut penelitian terbaru dari Singapura dan AS menunjukkan kabut asap tersebut menghambat pertumbuhan generasi berikutnya.

Penelitian ini menemukan bukti bahwa anak-anak di dalam rahim yang terpapar kabut asap tersebut berpotensi membuat mereka lebih pendek atau mengalami stunting. Temian menunjukkan bahwa udara beracun dapat menyaring pasokan oksigen janin. Hal ini menyebabkan perubahan permanen yang berpotensi menyebabkan berat badan lahir rendah. Tak hanya itu, paparan kabut asap ini juga menyebabkan potensi tinggi badan yang lebih pendek di usia dewasa.

“Sementara penelitian sebelumnya telah menarik perhatian pada kematian yang disebabkan kebakaran hutan, kami menunjukkan bahwa orang yang selamat juga menderita kerugian besar dan tidak dapat dipulihkan,” tulis para peneliti dalam laporannya di jurnal PNAS dikutip dari Science Alert, Minggu (24/02/2019).

Ini merupakan temuan baru yang menunjukkan bahwa kebakaran hutan lebih berbahaya daripada yang kita bayangkan sebelumnya. Pada kebakaran hutan tahun 1997 silam, dilepaskan sejumlah besar sulfida, dinitrogen oksida dan abu ke udara, menghasilkan seperempat dari semua emisi karbon untuk tahun itu dan akhirnya mendorong tingkat polusi ke ketinggian yang sebelumnya tak tertandingi.

Di beberapa daerah, menghidup kabut asap ini setara dengan merokok 20 batang. Kini, diperkirakan sekitar 20 juta orang terkena dampak buruk dari kebakaran hutan 22 tahun lalu itu.

Dalam penelitian ini, para ilmuwan dari Duke University, AS memeriksa 560 anak yang terkena dampak ketika mereka berusia 6 bulan atau masih dalam kandungan. Mereka menganalisis data tentang paparan kabut asap serta hasil gizi anak, informasi genetik, dan faktor sosial lainnya.

Para peneliti menemukan, anak-anak yang lahir selama masa kabut asap tersebut rata-rata lebih pendek 3,3 sentimeter dibanding yang seharusnya ketika berusia 17 tahun.

Bagikan:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments

Jakarta dan Munajat 212 Meninggalkan Kontroversi

Teman Sepermainan: Bully Berujung Hilangnya Nyawa