in

Order Fiktif Ojol, Berujung Jeruji Besi

Tersangka Kredit Fiktif Ojol - FOTO/Antara

sumogambar – Ojek online (ojol) mungkin sudah bukan hal yang asing lagi. Kehadirannya sama seperti transportasi umum lain semisal bis atau kereta api. Bedanya, bisa lebih menghemat waktu dan tidak perlu berdesak-desakan seperti saat nik bus. Tapi tentu saja biaya untuk naik transportasi jenis ini sedikit mahal. Bisnis ojol yang diberitakan kali ini yakni GO-JEK.

Pada tahun 2015, GO-JEK merilis aplikasi mobile. Benar saja, jangkauan GO-JEK semakin meluas, kemudahan mengakses aplikasi mobile GO-JEK melalui perangkat Android dan iOS membuat bertambahnya jumlah pengemudi, dari sebelumnya yang hanya ratusan orang menjadi 300 ribu orang.

Daya jangkaunya pun kian bertambah, awalnya hanya menjangkau wilayah sekitar jabodetabek, kini bisnis GO-JEK telah menjangkau lebih dari 50 kota di seluruh Indonesia.

Dalam perkembangannya, GO-JEK mengklaim dirinya tumbuh menjadi on-demand mobile dan aplikasi terdepan. GO-JEK memberikan pelayanan interaktif yang memfasilitasi khalayak untuk memilih berbagai jasa layanan. Mulai dari trasnportasi, logistik, pembayaran, layan- antar makanan, dan berbagai layanan on-demand lainnya.

Hari ini, GO-JEK telah berhasil menjadi sebuah perusahaan teknologi dengan semangat membangun kesejahteraan sosial di berbagai sektor informal, di Indonesia. Menurut visinya, GO-JEK berpegang teguh pada tiga nilai pokok: kecepatan, inovasi dan dampak sosial.

Teknologi yang semakin canggih kerap disalah gunakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Namun kehadiran ojol ini pun memberikan banyak pengalaman maupun cerita. Mulai dari yang mengharukan, sampai yang bikin kesal. Termasuk terbongkarnya kasus order fiktif.


Kasus Order Fiktif

GO-JEK bekerja sama dengan Polda Metro Jaya menggelar konferensi pers, mengungkap praktik sindikat order fiktif yang beroperasi di wilayah Jakarta, Rabu (13/2/2019).

Pengungkapan ini dilakukan setelah melalui proses identifikasi dan laporan oleh GO-JEK.

Unit Cyber Crime Polda Metro Jaya menjerat sindikat pelaku order fiktif berdasarkan laporan yang Gojek ajukan pada 28 Januari 2019.

“Tidak ada toleransi bagi tindak kecurangan di aplikasi GO-JEK. Ke depannya, kami akan terus berkolaborasi dengan pihak kepolisian untuk menindak tegas kasus serupa,” kata Chief of Public Policy and Government Relations GO-JEK, Shinto Nugroho, Rabu (13/2).

Pihak GO-JEK mengaku telah memberikan sanksi terhadap pelaku kecurangan yang menggunakan aplikasinya.

“Proses ini adalah bagian dari prosedur yang telah kami jalani. Sampai dengan saat ini, kami telah memberikan sanksi kepada pelaku kecurangan yang masuk ke dalam aplikasi kami, baik oknum mitra driver maupun pelanggan. Kami melihat bahwa jalur penindakan hukum perlu juga kami ambil sehingga memberikan efek jera,” ujar Hans Patuwo, Chief Operation Officer GO-JEK.

Polisi menangkap RP, CA, RW, dan RK, pelaku order fiktif menggunakan aplikasi GO-JEK. Keempatnya ditangkap di satu rumah di Kompleks Taman Dutamas, Jakarta Barat, Rabu (1/2) sekitar pukul 14.00 WIB.

“Para tersangka berumur 20-30 tahun. Empat tersangka ini 4 sekawan, artinya teman semua,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono dalam jumpa pers di Polda Metro Jaya, Jakarta, Rabu (13/2). Jumpa pers juga dihadiri oleh Chief Operating Officer (COO) GO-JEK Hans Patuwo.

Argo menjelaskan, keempatnya memodifikasi ponsel mereka agar dapat melakukan order fiktif. Masing-masing memiliki akun mitra GO-JEK sebanyak 30 buah. Dari akun-akun tersebut mereka saling melakukan order. Meski di GPS terlihat dilakukan pengantaran, namun hal itu tak pernah terjadi.

“Jadi tersangka ini melakukan kegiatan mendaftar sebagai anggota GO-JEK, kemudian yang bersangkutan beli pada seseorang yang masih kita cari, yang otak-atik HP. Kemudian ditambahi software akhirnya tersangka bisa ngibuli. Seolah dia transaksi, tapi transaksi fiktif,” kata Argo.

Argo mengatakan, pelaku menggunakan satu akun untuk order fiktif sebanyak 24 kali. Hal itu dilakukan agar para tersangka mendapatkan bonus dari GO-JEK sebesar Rp 350 ribu per hari dari satu akun.

“Kalau satu orang ini melakukannya sampai 24 tiap hari itu ada poin yang diberikan GO-JEK sekitar Rp 350 ribu. Kalau sehari itu menggunakan 30 atau 50 akun, tinggal dikalikan,” kata Argo.

“Kalau ditotal, satu orang ini bisa mendapatkan Rp 7-10 juta tiap hari, itu satu akun. Kalau dia punya 10 akun atau 20 akun tinggal dikalikan,” tambah Argo.

Para pelaku mengaku baru melakukan aksinya selama tiga bulan. Namun polisi masih akan menyelidiki lebih lanjut pengakuan tersebut. Polisi juga masih mengejar pelaku yang melakukan modifikasi pada HP mereka.

“Keterangan pelaku katanya dia melaksanakan kegiatan baru November, baru 3,5 bulan. Tapi penyidik tetap akan periksa kembali, mendalami kembali apa benar baru 3 bulan,” kata Argo.

Sementara itu, COO GO-JEK Hans Patuwo mengatakan tindakan yang dilakukan tersebut untuk memberikan efek jera kepada para pelaku. Hans mengaku GO-JEK sendiri telah memiliki sistem untuk mendeteksi order fiktif yang dilakukan para mitranya.

“Hal yang kita lakukan hari ini adalah langkah ekstra yang kita lakukan untuk mendapat efek jera. Kami punya sistem secara otomatis tiap hari, tiap detik mendeteksi dan memantau sumber-sumber order fiktif tersebut dan selalu akan kami tindak lanjuti,” kata Hans.

Empat sekawan pelaku order fiktif dijerat UU ITE Pasal 35 jo Pasal 51 ayat 1, Pasal 33 jo Pasal 49. Selain itu mereka juga dijerat Pasal 378 KUHP dengan ancaman 4 tahun pidana.

Selain pelaku, polisi juga mengamankan barang bukti berupa 20 HP dengan akun driver GO-JEK, kartu perdana baru, dan 3 unit ponsel lainnya.

Apresiasi pemilik GO-JEk pada Polisi atas terkuaknya kasus order fiktif GO-JEk

Beberapa oknum berhasil dibekuk oleh kepolisian karena terbukti bertindak sebagai koordinator sindikat pelaku order fiktif yang telah mengganggu ketenangan mitra driver Gojek dalam mencari nafkah.

“Kami sangat mengapresiasi keberhasilan Polda Metro Jaya dalam mengungkap kasus ini,” kata Shinto Nugroho, Chief of Public Policy and Government Relations Gojek.

“Laporan dan bukti-bukti yang kami berikan, diproses dengan cepat sehingga sindikat pelaku order fiktif dapat segera ditangkap untuk dilakukan proses penyelidikan lebih lanjut,” ucapnya.

Menurut dia, Gojek bersama Polda Metro Jaya berkomitmen memproses secara hukum oknum yang tergabung dalam sindikat pelaku order fiktif.

Pihaknya akan terus menyampaikan berbagai bukti kuat untuk mengungkap sindikasi-sindikasi order fiktif.

“Proses ini adalah bagian dari prosedur yang telah kami jalani. Sampai dengan saat ini, kami telah memberikan sanksi kepada pelaku kecurangan yang masuk ke dalam aplikasi kami, baik oknum mitra driver maupun pelanggan,” paparnya.

“Kami melihat bahwa jalur penindakan hukum perlu juga kami ambil sehingga memberikan efek jera,” sambungnya.

“Ke depannya, kami akan terus berkolaborasi dengan pihak kepolisian untuk menindak tegas kasus serupa,” ucapnya lagi.

Bagikan:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments

Lika Liku Perjalanan Hidup Jakob Oetama

Kementerian PUPR Himbau: Waspadai Penipuan Program Satu Juta Rumah