in

Sejarah Pendiri Pondok Pesantren di Jombang, dan Ajarannya untuk Santri

Perhatikan sejarahmu untuk hari esok”(Qs: Al- Hasyr ( 59) :18)

Sumogambar – Apabila kita lihat kutipan di atas, kita mendapatkan sebuah penggalan kalimat “wal tandzur nafsun maa qaddamat lighad” yang berarti “Perhatikan apa yang telah diperbuat (Sejarah) untuk hari esok (akhirat)”. Penggalan ini seakan pengingat untuk kita semua. Dalam bahasa serupa, seolah pesan amat berharga: “Perhatikanlah sejarahmu, untuk masa depanmu”. Mengapa demikian penting kita belajar dari sejarah?

Pengertian sejarah menurut tokoh dunia Aristoteles Sejarah adalah sistem yang meneliti kejadian sejak awal dan tersusun dalam sebuah kronologi. Sejarah memiliki catatan, record serta bukti konkrit yang bisa menjelaskannya.

Sejarah amat penting bagi manusia. Dengan memahami sejarah, kita bisa belajar agar terhindar dari kesalahan yang sama di masa lalu.

Indonesia memiliki basis Islam kuat memunculkan golongan masyarakat pesantren. Pondok pesantren dapat kita artikan sebagai sebuah tempat untuk belajar dan mengajarkan ilmu agama Islam. Pesantren dalam berbagai masa memegang peranan yang amat penting sekaligus menjadi salah satu tempat untuk menjaga tradisi keilmuan Islam. Pondok pesantren mempunyai arti asrama, atau tempat mengaji, (PDF).

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menyebutkan Rancangan Undang-Undang (RUU) Pesantren dibuat bukan untuk mengawasi, namun untuk menjaga marwah pondok pesantren (ponpes) yang ada di Indonesia serta dinilai mampu meningkatkan status pendidikannya.

Kabupaten Jombang dikenal dengan sebutan Kota Santri, karena banyaknya sekolah pendidikan Islam (pondok pesantren) di wilayahnya. Hal ini menjadi pandangan umum pada empat pondok pesantren besar di Jombang. Yakni Pesantren Tebuireng, Pesantren Darul Ulum Rejoso, Pesantren Manbaul Ma’arif Denanyar dan Pesantren Bahrul Ulum Tambak Beras.

Kali ini sumogambar mengangkat singkat sejarah berdirinya Pondok Pesantren yang notabenenya didirikan oleh ulama besar.

Dalam pengertian umum, Ulama atau Kyai merupakan pemuka agama atau pemimpin agama yang bertugas untuk mengayomi, membina dan membimbing umat Islam baik dalam masalah-masalah agama maupum masalah sehari hari yang diperlukan baik dari sisi keagamaan maupun sosial kemasyarakatan.

Sejarah Pondok Pesantren (ponpes) Tebuireng

Pesantren Tebuireng berdiri pada 28 Rabiul Awal 1317 H (bertepatan dengan tanggal 3 Agustus 1899 M). Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari (Mbah Hasyim) adalah Pendiri pesantren Tebuireng. Beliau merupakan putra ketiga dari 11 bersaudara dari pasangan Kyai Asy’ari (Pendiri ponpes Keras) dan Nyai Halimah.

Dilansir dari kantor media suara Nahdlatul Ulama, Mbah Hasyim dikenal luas ilmunya atas kepakarannya dalam bidang hadist tafsir. beliau mendapatkan pendidikan langsung dari ayah dan kakeknya, kyai Utsman (Pendiri Ponpes Ngedang).

Disinilah pertama memulai mengajar santri, Pesantren Ngedang yang diasuh oleh mediang kakeknya, sekaligus tempat dimana ia dilahirkan dan dibesarkan. Setelah itu beliau juga mengajar di Desa Muning Mojoroto Kediri. beberapa santri yang beliau ajar itulah menjadi pondasi awal terbentuknya pesantren yang didirikan di Tebuireng.

Mbah Hasyim berencana membangun sebuah pesantren dan dipilihlah sebuah tempat di Dusun Tebuireng. bersama rekan-rekan seperjuangnya, seperti Kiai Abas Buntet, Kiai Sholeh Benda Kereb, Kiai Syamsuri Wanan Tara, dan beberapa Kiai lainnya. dan juga dari beberapa santri yang sebelumnya beliau ajar itulah menjadi pondasi awal terbentuknya pesantren yang didirikan di Tebuireng.

Mbah Hasyim memulai sebuah tradisi mengajar yang keistimewaan beliau yaitu menghatamkan kitab shakhihaini “Al-Bukhori dan Muslim” dilaksanakan pada setiap bulan suci ramadlan yang konon diikuti oleh ratusan kiai yang datang berbondong-bondong dari seluruh jawa.

Sejak tahun 1916 – 1919 mulai dirintis pendidikan dalam bentuk klasikal, meskipun masih sangat sederhana. Semua kitab yang diajarkan sesuai dengan tradisi pesantren salaf, yakni Pendidikan semula berlangsung secara sorogan (santri membaca materi kitab kuning guru menyimak) dan bandongan (guru membaca kitab kuning, santri menyimak memberi makna).

Baru pada tahun 1926 selain mengajar pengetahuan agama Islam, ilmu syari‟at, dan bahasa Arab juga pelajaran umum yaitu bahasa Belanda dan Sejarah Indonesia. kedua pelajaran ini diperkenalkan pleh Kyai Ilyas, keponakan mbah Hasyim yang telah menamatkan pelajarannya di HIS Surabaya.

Pendidikan banyak mengalami penyempurnaan baik kurikulum maupun metodenya, termasuk tambahan pelajaran umum yang meliputi bahasa Indonesia, Ilmu Bumi dan Berhitung. Kemudian ditambah dengan sistim musyawarah. Beliau juga mengajar para santri membaca buku-buku pengetahuan umum, berorganisasi, dan berpidato.

Pandangan dan pemikiran mbah Hasyim terhadap pendidikan bisa dienjawantahkan  dalam kitab yang berjudul Adab al-Alim wa al-Muta’alim. kitab yang ditulis beliau ini membahas etika (adab) dalam pencarian ilmu pengetahuan. Dilansir dari NUonline.

Sejarah Pondok Pesantren (ponpes) Darul Ulum Rejoso

Pesantren Darul Ulum dibangun sejak tahun 1885. Pendirinya yakni KH. Tamim Irsyad dibantu KH. Cholil sebagai mitra kerja dan sekaligus menjadi menantunya.

  1. Tamim Irsyad lahir di Desa Pareng Bangkalan Madura. Beliau adalah alumni Pondok Pesantren Bangkalan dalam asuhan KH. Cholil. Ketika Telah menyelesaikan purna study, bersama keluarga kecilnya merantau ke pulau Jawa untuk menurutkan kata hati mencari ketenangan hidup sambil mengamalkan ilmu.
  2. Tamim Irsyad adalah ahli dalam syariat Islam di samping memiliki ilmu kanuragan kelas tinggi. Demikian pula KH. Cholil merupakan pengamal ilmu tasawuf disamping memiliki bekal ilmu syariat Islam pada umumnya. Beliau waktu itu telah dipercaya oleh gurunya untuk mewariskan ilmu tharekat qodiriyah wannaqsyabandiyah-Nya kepada yang berhak menerimanya, dengan kata lain beliau berhak sebagai Al-Mursyid (guru petunjuk dalam dunia tharekat).

Pada periode ini sistem pengajaran ilmu pengetahuan dilaksanakan oleh kedua beliau dengan sistem ceramah dan praktikum langsung melalui saluran sarana yang ada pada masyarakat.

  1. Tamim Irsyad memberikan pengajian ilmu Al-Qur’an dan Ilmu Fiqih atau hukum syariat Islam, sedangkan KH. Cholil memberikan pengajian ilmu tasawuf dalam bentuk pengamalan thareqat qodiriyah wan naqsyabandiyah disamping tuntunan ilmu tauhid. Sehingga dengan demikian para murid tidak berat menjalankan syariat Islam.

Sejarah Pondok Pesantren (ponpes) Manbaul Ma’arif Denanyar

Ponpes Mamba‘ul  Ma‘arif,  lebih  dikenal  dengan  sebutan Pondok Denanyar, KH M. Bishri Syansuri pendiri  pondok  pesantren  di  tempat  yang  berjarak ± 2  Km  arah  Barat  kota  Jombang.  Dengan dorongan istrinya Nyai Hj. Noor Khodijah dan mertuanya KH. Hasbullah serta gurunya KH. Hasyim Asy‘ari, pada tahun 1917.

Berangkat dari sebuah surau kecil dan empat orang santri, dimulailah kegiatan pondok pesantren. Di samping itu, Kyai kelahiran 18 September 1886 di Tayu Pati ini juga kerap melakukan dakwah di luar pesantren, keliling dari satu desa ke desa lainnya.

Pasca kemerdekaan, keberadaan Ponpes Mamba‘ul Ma‘arif semakin dikenal  oleh  masyarakat.  Pada  tahun  1962,  didirikanlah  Yayasan  Mamba‘ul  Ma‘arif sebagai badan tertinggi organisasi.

Metode mengajar yang menjadi ciri khas pondok yaitu kitab kuning. Inilah yang menjadi rohnya Diniyah. Di pondok ini, menganut ajaran Ahlus sunnah wal jamaah dengan petunjuk konstruktif empat Mazdhab yaitu Madzhab Maliki, Syafi’i, Hambali dan Hanafi. Ponpes ini tidak hanya belajar tentang keislaman saja, akan tetapi, tetap adanya sekolah formal untuk para santri.

Sejarah Pondok Pesantren (ponpes) Bahrul Ulum Tambak Beras.

Ponpes Bahrul Ulum, terletak di dusun Gedang kelurahan Tambakberas tepatnya ± 3 Km sebelah utara kota Jombang. Didirikan sekitar pada tahun 1825 leh  KH. Abdus Salam, Bersama pengikutnya 25 orang, ia kemudian membangun perkampungan santri dengan mendirikan sebuah surau dan tempat pondokan sementara.

Karena itu pondok pesantren juga dikenal pondok selawe (dua puluh lima) KH. Abdus Salam adalah seorang keturunan raja Brawijaya dari Majapahit sebagaimana silsilah Abdussalam putra Abdul Jabbar putra Ahmad putra Pangeran Sumbu putra Pangeran Benowo putra jaka Tingkir (maskarebet) putra Lembu peteng Aqilah Brawijaya.

Alkisah, KH. Abdus Salam sosok pendekar ulama’ bukan hanya berdakwah dengan melakukan pengajaran saja, tapi sebagaimana lazimnya ulama’ pada masa itu.

Beliau dibekali dengan ilmu kanuragan, ilmu kekebalan, ilmu meramu jampi-jampi dan ilmu pengobatan.

Hingga saat ini di depan Kantor Pondok Induk Bahrul Ulum masih terdapat lumping, yakni sebuah batu besar yang digunakan Abdussalam untuk menumbuk ramuan-ramuan.

Tentang ilmu kanuragannya, beliau pernah membuktikannya ketika seorang penjajah Belanda datang bersama kudanya tanpa sopan santun menghadap kepada beliau, tanpa kompromi beliau menghentaknya hingga penjajah Belanda itu dan kudanya mati seketika, saat itulah beliau juga dikenal dengan nama Mbah Shoichah (Arab; hentakkan).

Setelah itu pondok nyelawe diteruskan oleh Kyai. Ustman. Dan Kyai. Sa’id mengembangkan sayap pendidikan pondok pesantren dengan mendirikan pondok pesantren di sebelah barat dusun, yang kini menjadi ponpes Bahrul Ulum.

Setelah Kyai Ustman dan Kyai Sa’id, yang meneruskan kepemimpinan ponpes adalah Chasbulloh putra Kyai Sa’id. Oleh sebab itu seluruh santri diboyong ke pondok barat di bawah asuhan Kyai Chasbulloh.

Tahun 1920 kyai Chabulloh (wafat) kemudian pimpinan ponpes diteruskan oleh putra-putranya yaitu Kyai Abdul Wahab, Kyai Abdul Hamid, dan Kyai Abdurrohim.

Nama Bahrul Ulum itu tidak muncul saat KH. Abdus Salam mengasuh pesantren tersebut. Nama itu justru berasal dari K.H. Abdul Wahab Hasbullah. Ia memberikan nama resmi pesantren Bahrul Ulum.

Melihat sejarah Pondok pesantren di atas dapat diambil kesimpulan, pesantren salah satu lembaga pendidikan non formal. Di mana pondok pesantren lahir ditengah-tengah masyarakat. Setiap pondok pesantren memiliki ciri khas yang berbeda-beda tergantung dari bagaimana dan metode seperti apa yang diterapkan dalam pembelajarannya.

Bagikan:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Comments

0 comments

Perang Dagang AS Vs China Apa Menguntungkan Rakyat?

Narkoba di Kalangan Artis, Kemewahan Semu atau Kefrustasian Belaka?